Kamis, 11 Juni 2009

yasmin 8 tahun III

YASMIN
Menuju Muslimah Taqwa, Cerdas dan Terampil
___________________________________________
Edisi 08/Tahun III
1 Juli 2009/ 10 Sya’ban 1430 H

ADAB BERGAUL AGAR DICINTAI ALLAH DAN MANUSIA

"Sesungguhnya di sekitar Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya, dan di atas mimbar-mimbar tersebut terdapat orang-orang di mana pakaian mereka adalah cahaya, dan wajah mereka adalah cahaya. Mereka bukan nabi, dan bukan pula syuhada'. Para nabi, dan syuhada' iri kepada mereka." Ditanyakan kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka kepada kita." Rasulullah saw. bersabda, "Mereka saling mencintai karena Allah, saling duduk karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah." (Diriwayatkan An-Nasai. Hadits ini shahih).

DARI REDAKSI

Assalamu’alaikum wr wb
Cita-cita tertinggi seorang muslim ialah agar dirinya dicintai Allah dan menjadi orang bertakwa. Itu semua dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Karena itu manusia senantiasa harus menjaga hubungannya dengan Allah (habluminalloh) dan dengan manusia (habluminnanas). Islam sebagai agama mulia, telah memberikan tuntunan tentang adab bergaul. Dengan mempraktekkan adab yang baik dalam bergaul, maka kita akan dapat memperoleh manfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat di antara umat Islam. Ukhuwah yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Bila adab bergaul tidak dipraktekkan dengan baik di antara sesama manusia, maka akan banyak terjadi kerenggangan, bahkan permusuhan. Bahkan, dakwah yang haq bisa dijauhi oleh manusia, jika tidak dibarengi dengan akhlak yang baik. Oleh karena itu, adab bergaul sangat perlu dipelajari dan diamalkan.

Dalam Yasmin edisi ini, kami akan membahas tentang adab bergaul dalam Islam, apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang seharusnya ditinggalkan. Tentunya semua itu hanya dalam rangka beribadah pada Allah dan untuk mencari ridho-Nya semata. Semoga bermanfaat.

Wasslam’alaikum wr wb


TOPIK UTAMA

Di antara tanda-tanda seseorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai oleh orang-orang shalih, diterima di hati mereka. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya, jika Allah mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata, "Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia." Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit, "Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia." Maka mereka (penduduk langit) mencintainya. Kemudian, ia menjadi orang yang diterima di muka bumi." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Beliau adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman, "Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung." (Al-Qalam : 4)

Kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya, "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik bagi kalian." (Al-Ahzab : 21)

Diantara adab bergaul yang sebaiknya kita lakukan adalah sebagai berikut :

1. Hormati perasaan orang lain, tidak menghina atau menyakiti baik dengan perkataan dan perbuatan. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya. Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka diberi hak dan dihargai.

2. Bersikap rendah hati dan tidak tamak terhadap apa-apa yang dimiliki orang lain. Rasulullah saw. Bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu.”(HR Ibnu Majah). Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan meminta apa yang engkau butuhkan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau meneteskan air mata.

3. Tidak melakukan maksiat dan meremehkan ketaatan. Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa dzikir dan ibadah, saling menasehati, mengingatkan dan memberi pelajaran, berarti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan hal itu bisa mengakibatkan terbukannya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah saw. Bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak mendzoliminya dan tidak menghinakannya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya karena satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya.”(HR Ahmad). Ibnu Qayim, dalam kitab “Al-Jawabul Kafi” mengatakan, “Di antara akibat dari perbuatan maksiyat adalah rasa gelisah (takut dan sedih) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiyat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya.” Orang-orang ahli maksiyat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar materi sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan hal itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat. Allah swt berfirman, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(Az-Zukhruf: 67). Sedangkan persahabatan karena Allah, akan terus berlanjut sampai di surga, “…sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”(Al-Hijr: 47).

4. Menggunakan adab yang baik ketika berbicara, bermuka manis dan tersenyum ketika berjumpa. Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'hendaklah mereka mengucapkan kata-kata yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia'.”(Al-Isra: 53). Dalam sebuah hadis Nabi saw. Bersabda, “Kalimah thayibah adalah shadaqah.”(HR Bukhari). Memperhatikan apabila ada yang mengajak berbicara dan tidak memalingkan muka darinya. Seorang ulama salaf berkata, “Ada seseorang yang menyampaikan hadis sedangkan aku sudah mengetahui hal itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara.”

5. Bercanda dan bersenda gurau secukupnya. Berapa banyak orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.

6. Menghindri berdebat, berbantah-bantahan dan memaafkan kesalahan mereka. Terkadang hubungan persaudaraan terputus karena terjadinya perdebatan yang sengit yang bisa jadi itu adalah tipuan setan. Dengan alasan mempertahankan akidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah saw. Bersabda, “Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya.”(HR Bukhari dan Muslim). Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka menggelar perdebatan, adu argumen dan pendapat. Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang bodoh, dan kepada ahli bidah, hal itu tidak masalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka hal itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, hal itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan. Jadi, bisa saja dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.

7. Tidak berbisik-bisik (pembicaraan rahasia) di depan orang lain. Berbisik-bisik adalah merupakan hal yang sepele tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan. Allah swt. Berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman berduka cita….”(Al-Mujadalah: 10) Rasulullah bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga karena itu akan bisa menyebabkannya bersedih.”(HR Bukhari dan Muslim). Para ulama berkata, “Setan akan membisikkan kepadanya dan berkata, 'Mereka itu membicarakanmu'.” Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta idzin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik (berbicara rahasia).

8. Jika saudaranya sakit maka ia menjenguknya, jika saudaranya mengalami kesulitan maka ia membantu meringankannya, jika saudaranya lupa maka ia mengingatkannya, menyambutnya dengan hangat jika saudaranya mendekat, memberi tempat yang luas jika saudaranya ingin duduk, dan mendengarkan dengan senius jika saudaranya berbicara.

9. Menjaga lisan dengan tidak membeberkan aib saudaranya baik sepengetahuan maupun tanpa sepengetahuannya, tidak membongkar rahasianya, dan tidak berusaha mengetahui rahasia-rahasia diri saudaranya. Jika ia melihat saudaranya di salah satu jalan untuk satu kebutuhan, maka ia tidak menyuruhnya menyebutkan kebutuhannya tersebut, dan tidak berusaha mengetahui sumbernya. Ia menyuruhnya kepada kebaikan dengan lemah-lembut, melarangnya dari kemungkaran dengan lemah-lembut, tidak membantah ucapannya, tidak mendebatnya dengan kebenaran atau kebatilan, tidak mengecamnya dalam satu urusan pun, dan tidak menyalahkan perbuatannya.

10. Memberi sesuatu yang dicintai saudaranya dan lisannya dengan memanggilnya dengan nama yang paling ia sukai, menyebutkan kebaikannya tanpa sepengetahuannya atau di depannya, menyampaikan pujian orang kepadanya sebagai bentuk keiriannya kepadanya dan kebahagiaannya dengannya, tidak menasihati berjam-jam hingga membuatnya gerah, dan tidak menasihati di depan umum karena hal mi mencemarkan nama baiknya. Imam Syafi'i Rahimahullah berkata, "Barangsiapa menasihati saudaranya secara rahasia, sungguh ia telah menasihatinya dengan baik, dan menghiasinya. Dan barangsiapa menasihati saudaranya dengan terang-terangan, sungguh ia telah mencemarkan nama baiknya."

11. Memaafkan kesalahannya, tidak mengambil pusing dengan kekeliruan-kekeliruannya, menutup aib-aibnya, berbaik sangka kepadanya, jika saudaranya berbuat maksiat dengan diam-diam atau terang terangan maka ia tidak memutus persaudaraan dengannya, tidak membatalkan persaudaraannya, namun ia tetap menunggu taubatnya. Jika saudaranya tetap bertahan berbuat maksiat, ia boleh memutus persaudaraan dengannya, atau tetap mempertahankan persaudaraan dengannya dengan memberikan nasihat kepadanya, dan terus mengingatkannya dengan harapan saudaranya bertaubat, kemudian Allah Ta‘ala menerima taubatnya. Abu Ad-Darda' ra berkata, "Jika saudaramu berubah, maka engkau jangan meninggalkannya karena hal tersebut, karena saudaramu itu terkadang menyimpang, namun pada kesempatan lain ia berada di atas jalan yang lurus."

12. Memenuhi hak ukhuwwah (persaudaraan) dengan menguatkannya dan mempertahankan perjanjiannya, karena memutus ukhuwwah itu membatalkan pahala ukhuwwah. Jika ia meninggal dunia, ia mentransfer hubungan ukhuwwah ini kepada anak-anaknya, dan sahabat-sahabat yang setia kepadanya untuk menjaga ukhuwwah, dan setia kepada saudaranya. Rasulullah saw. memuliakan wanita tua, kemudian beliau ditanya tentang sikapnya tersebut, maka beliau bersabda, "Sesungguhnya wanita tua ini dulu sering datang kepada kami semasa Khadijah masih hidup, dan sesungguhnya memuliakan janji adalah bagian dan agama." (Diriwayatkan Al-Hakim dan ia men-shahih-kan hadits ini). Di antara bentuk kesetiaan kepada ukhuwwah ialah ia tidak boleh bersahabat dengan musuh saudaranya, karena Imam Syafi'i Rahimahullah berkata, "Jika temanmu mentaati musuhmu, maka keduanya terlibat dalam permusuhan denganmu."

13. Tidak menyuruh saudaranya dengan sesuatu yang tidak mampu ia kerjakan, dan tidak ia senangi. Ia tidak boleh bergantung dengan harta atau jabatan saudaranya, dan tidak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan, karena asas ukhuwwah ialah karena Allah Ta‘ala. Oleh karena itu, ukhuwwah ini tidak boleh diubah kepada selain Allah, misalnya untuk menarik rnanfaat dunia, atau menolak madharat dunia. Disebutkan dalam atsar, "Aku, dan orang-orang bertakwa dan umat berlepas diri dari pembebanan yang tidak proporsional."

14. Mendoakan saudaranya, anak-anaknya, dan apa saja yang terkait dengannya sebagaimana ia senang mendoakan dirinya, anak-anak kandungnya, dan apa saja yang terkait dengannya, sebab seseorang tidak berbeda dengan saudaranya karena persaudaran telah menyatukan keduanya. Oleb karena itu, ia harus mendoakan saudaranya baik dalam keadaan hidup, atau mati, atau tidak ada di tempat, atau berada di tempat. Rasulullah saw. bersabda, "Jika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka malaikat berkata, ‘Engkau juga mendapatkannya'." (HR Muslim).


KISAH

Ada sepenggal kisah menarik saat Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah yang diriwayatkan Anas bin Malik.

''Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya,'' ujar Sa'ad bin Rabi, penduduk Madinah atau kaum Anshar, kepada Abdurrahman bin 'Auf, seorang Muhajirin. Sa'ad tak bermaksud pamer dan sombong, tapi hendak meyakinkan sahabatnya itu agar mau menerima tawarannya.

''Silakan pilih separuh hartaku dan ambillah!'' tegas Saad. Tidak hanya itu, Saad menambah penawarannya. ''Aku pun mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatianmu, maka akan kuceraikan ia, hingga engkau dapat memperistrinya.''

Namun, Abdurrahman menolak halus tawaran tulus nan menggiurkan tersebut. Malah ia minta ditunjukkan letak pasar. Ia menolak ikan, tapi mau kail agar bisa memancing sendiri.

''Semoga Allah memberkati engkau, istri, dan harta benda milikmu. Tunjukkanlah letak pasar, agar aku dapat berniaga.''

Hingga pada akhirnya, Abdurrahman bin 'Auf yang miskin akibat meninggalkan semua harta bendanya di Makkah demi perjalanan hijrah ini, menjadi seorang saudagar. Ia menjadi kaya raya kembali dengan perniagaan yang dikelolanya secara profesional, amanah, dan jujur.

Keindahan ukhuwah Islamiyah kaum Muslimin generasi awal itu, harus bisa kita terapkan kembali. Sebuah jalinan ukhuwah yang bisa menciptakan integrasi umat Islam yang sangat kokoh dan akan membawa Islam mencapai kejayaan dan mengembangkan sayapnya ke berbagai penjuru bumi serta disegani oleh musuh-musuhnya.

Terlebih saat ini, banyak saudara-saudara kita membutuhkan bantuan uluran tangan akibat banjir, longsor, dan musibah lainnya. Bila Sa'ad bersedia berbagi -bahkan rela memberikan apa yang dicintainya- untuk saudara Muslimnya, kenapa kita tidak?

FIQH

Adab Bergaul

1. Berkata yang baik dan mau memaafkan orang lain. Allah berfirman, ” Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih disukai Allah daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS Al Baqarah : 263)

2. Tidak menyakiti hati orang lain, tidak menyebut-nyebut pemberian yang telah diberikan. Allah berfirman, ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima).... ” (QS Al Baqarah : 264)

3. Perhatikan perasaan orang lain dan hormatilah, jangan menghina atau memandang mereka cacat, mencela dan memanggil dengan julukan jelek . Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaummengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan)..... (QS 49 : 11)

4. Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman, ”yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS 3 : 134)

5. Menjaga diri dari perbuatan mendholimi orang lain. Allah berfirman, ”Sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat dholim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. ” (QS 42 : 42)

6. Saling mencintai. ”Rasulullah saw bersabda, ”Seorang di antara kalian tidak (dikatakan) beriman sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari Muslim)

7. Tersenyumlah ketika bertemu orang lain dan bersikap zuhud. ” Rasulullah saw bersabda, ”Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka mencintaimu.” (Hadist hasan diriwayatkan Ibnu Majah)

8. Jauhi dengki, menipu dan sikap menzholimi orang lain. ” Rasulullah saw bersabda, ”Janganlah kalian saling dengki, jangan salling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli sesuatu yang masih (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak layak untuk menzholiminya, berbohong padanya dan acuh padanya. Taqwa itu di sini (beliau sambil menunjuk dadanya tiga kali). Cukuplah kejahatan seseorang jika ia menghina saudara muslim lainnya. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya dan harga dirinya.” (HR Muslim)

9. Mendoakannya. "Jika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka malaikat berkata, ‘Engkau juga mendapatkannya'." (Diriwayatkan Muslim).

Sabtu, 31 Januari 2009

YASMIN 3 TAHUN III, 1 FEBRUARI 2009

Edisi 03 Tahun III/1 Februari 2009/6 Shafar 1430 H

ISLAM STANDAR KEBENARAN YANG TUNGGAL

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS 2 : 147)

DARI REDAKSI

Assalamu’alaikum wr wb

Pembaca yang dimuliakan Allah, apa kabar? Semoga semua selalu dalam kebaikan dan keberkahan-Nya. Perguliran hari demi hari tak terasa telah mengantarkan kita pada tahun yang baru ini. Tahun baru, semangat baru, itu yang kami harapkan. Pada kesempatan ini, kami mengulas tentang standar kebenaran yaitu Islam. Dengan tujuan supaya kita mempunyai standar dalam kehidupan ini yang jelas dan tidak rancu. Dengan demikian, kita bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah. Semoga Anda bisa menyimaknya dengan seksama. Teriring doa semoga kita selalu dalam perlindungan Allah dan mendapat kemudahan. Amin.

Wassalamu’alaikum wr wb

TOPIK UTAMA

Fenomena amat menyedihkan yang kita saksikan hari ini adalah, persepsi manusia yang makin kacau tentang standar kebenaran. Manusia saling berebut pengaruh dalam mencari pengakuan bahwa produk otak mereka bisa dijadikan takaran bagi nilai-nilai kehidupan. Mereka lupa bahwa manusia mempunyai segudang kekurangan sehingga amat mustahil bisa membuat aturan yang sempurna untuk mengatur kehidupan ini. Akibatnya memang amat memilukan, hidup mereka bagai merayap di alam kegelapan. Tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Manusia pun makin terperosok dalam jurang ketidakpastian cita-cita dan tujuan hidup.

Betapapun tingginya peradaban yang berhasil dibangun manusia, ia bukan jaminan bagi terciptanya perdamaian. Barat yang telah berhasil memacu teknologi begitu cepat, meninggalkan negara-negara dunia ketiga, nyatanya hari ini mengalami krisis ekonomi yang begitu luas sehingga memporak-porandakan segi-segi kehidupan. Timur pun yang selalu berkiblat ke barat tak mempunyai identitas diri sehingga mudah diombang-ambingkan oleh situasi dan kondisi. Kemajuan yang tidak bersandarkan pada nilai-nilai kebenaran yang mutlak (hukum Allah) akhirnya akan menggiring manusia pada jurang kehancuran yang mengerikan.

Tatkala penduduk dunia makin resah dengan berbagai krisis yang ada, maka Islam sebagai petunjuk hidup seluruh manusia adalah salah satu alternatif dalam menjawab semua permasalahan itu.

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu serta pembeda antara yang haq dan yang bathil.” (QS 2 : 185)

Islam adalah sebuah kepastian, Al Qur’an yang merupakan sandaran utama dienul Islam, adalah sebuah kebenaran mutlak. Mustahil dari kesalahan, luput dari kekhilafan dan kekurangan. Karena ia berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna, Yang Maha Tahu, Maha Kuat dan Maha Benar yaitu Rabbul Izzati. Dia Penguasa Tunggal jagad raya, Pemelihara Sekalian Alam, Pemilik Kerajaan langit dan bumi. Karena itulah otoritas membuat aturan dan hukum tentang kegidupan hanya mutlak milik Allah saja.

”Membuat hukum hanyalah mutlak kepunyaan Allah. Dia memerintahkan kamu agar tidak menyembah kepada selain Dia. Itulah petunjuk hidup yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 12 : 40)

”Dan Dia-lah Tuhan yang sisembah di langit dan Tuhan yang disembah di bumi.” (QS 43 : 84).

Al Qur’an dengan begitu jelas dan rinci menerangkan hukum-hukum yang mengatur tata cara hidup manusia. Dijelaskan pula akibat-akibat dari ketaatan dan pembangkangan dari orang-orang terdahulu sebagai contoh dan pelajaran bagi kita orang-orang yang hidup kemudian.

Kebenaran dan tujuan diciptakannya manusia dipaparkan dengan jelas. Al Qur’an berisi keterangan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang dan tentang hal-hal yang ghoib.

Sebuah warisan suci dari kerajaan langit yang utuh dan menyeluruh, sempurna dan kekal sebagai standar kehidupan. Adalah layak jika seluruh manusia di dunia menjadikannya sebagai sumber hukum. Sehingga tidak layak kalau manusia masih mencari-cari yang lain.

“Atau siapakah yang menciptaka (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rizqi kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Alah ada Tuhan yang lain? Katakanlah : tunjukkan bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS 27 : 64)


FIQIH

Prinsip dasar tentang Islam dalam Al Qur’an
”Sesungguhnya dien yang diridhoi Allah hanyalah Islam.” (QS 3 : 19)
”Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS 16 : 89)
”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh.” (QS 2 : 208)
”Apakah kalian akan beriman dengan sebagian Al Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tak ada balasan bagi yang berbuat demikian, kecuali kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan di hari kiamat mereka dilemparkan ke dalam azab yang amat berat.” (QS 2 : 85)
”Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah dan kalimat Allahlah yang tinggi.” (QS 9 : 40)

KISAH

ISLAMNYA SEORANG CAT STEVEN (YUSUF ISLAM)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS :34)

Aku dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Tetapi karena aku dibesarkan sebagai orang Kristen, maka aku harus mencari jalanku kembali menuju Islam. Aku dibesarkan dalam dunia barat yang sangat materialistis.

Inilah zaman kita dewasa ini. Zaman yang kuanggap sangat baik jika dipandang dari itu semua. Ketika itu aku menganggap bahwa zaman ini sangat hebat dan spektakuler dalam kehidupan kita di mka bumi ini. Sebab kita sudah bisa menjelajahi sampai ke bulan. Jadi demikianlah dunia ini disajikan kepadaku, sehingga aku yakin bahwa manusia hanya akan mencapai puncak peradaban jika ia hidup secara ilmiah dan memiliki harta dan kekayaan yang berlimpah.

Maka aku menjadikan hal ini sebagai tujuan hidup. Akan halnya agamaku Kristen, aku tak memahaminya. Aku memang menyukai kisah-kisah yang ada di dalamnya mengenai Isa Al Masih. Tetapi karena agama ini tidak sempurna, bukan dien yang sesungguhnya, maka aku tidak bahagia. Maka akupun cenderung mengambil jalan sains, teknologi dan materialisme.

Aku tidak termasuk orang yang pandai sehingga tidak mungkin menjadi ilmuwan. Tapi aku melihat ada cara yang mudah untuk menghasilkan uang, yaitu dengan menggubah musik. Saat itu banyak sekali grup-grup musik dan penyanyi-penyanyinya. Aku memutuskan inilah jalanku, aku akan menjadi orang kaya dan bahagia.

Maka jadilah aku orang terkaya dan terkenal. Namun bersamaan dengan itu datanglah persoalan yang lainnya. Sebab itu semua persis tampil sebagaimana sebuah pagelaran. Kalau Anda melihat pagelaran dan Anda pergi ke belakang panggung, Anda akan melihat keadaan sesungguhnya di sana. Kondisi compang-camping, berantakan dan ketidakteraturan lainnya. Suatu keadaan yang berbeda sekali.

Setelah aku berhasil mencapai karir puncak sebagai penyanyi, akupun menyadari ini bukanlah yang sebenarnya aku cari dan aku idam-idamkan dalam hidupku. Mulailah aku mencari kembali makna hidupku. Kebetulan aku terserang suatu penyakit. Alhamdulillah, aku jadi punya waktu untuk merenung dan berfikir. Dan dalam perenunganku ada pertanyaan-pertanyaan penting yang sulit untuk mendapatkan jawabannya. Apa yang terjadi pada diriku setelah kematian? Apa sebenarnya tujuan hidup ini? Jika tujuannya materi, maka manusia sangat merugi. Perlombaan mengejar materi adalah perlombaan yang sia-sia.

”Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.” (QS 103 : 1 – 2)

Maka mulailah aku menjajagi beberapa agama. Akan tetapi aku menjumpai pada dasarnya agama-agama yang aku pelajari bukanlah agama yang sesungguhnya. Semua itu hanya sejenis filsafat. Sesungguhnya hal yang jauh dari sempurna jika dibandingkan dengan apa yang kita kenal dengan Al Islam.

Maka akupun melanjutkan pencarian. Pada tahun 1975, kakakku David, pergi ke Yerusalem dengan kunjungan sebagai turis. Ia ingin melihat tempat Isa Al Masih dilahirkan dan berharap menemukan pengalaman spiritual. Akan tetapi ia tak menemukan pengalaman spiritual itu. Di sana ia menemukan gereja-gereja tanpa ruh, bahkan ia melihat sendiri adanya korupsi dan perpecahan dalam gereja-gereja itu. Ia juga kecewa melihat tingkah orang-orang Yahudi di sana.

Ketika ia menengadah dan melihat ada sebuah masjid, ia bertanya pada dirinya sendiri, ”Apakah agama ini?” Kita tidak tahu apapun tentang agama ini! Memang ada sedikit berita tentang Islam, tapi belum mencukupi. Maka masuklah dia ke masjid dan merasakan sebuah ketenangan, tentram dan damai. Ia merasa gembira sekali. Akan tetapi ia harus segera keluar, karena dia bukanlah seorang muslim.

Kembalilah dia ke London. Kebetulan di sana ada festival kebudayaan Islam dan pameran buku-buku Islam. Datanglah ia ke sana dan menyaksikan pameran itu dengan penuh takjub. Kemudian dia melihat Al Qur’an. Ia berkata, ”Ah, ini buku orang muslim.” Ia kemudian membeli Al Qur’an itu dan kemudian menyimpannya. Al qur’an itu akhirnya dihadiahkan untukku, Alhamdulillah.

Sewaktu aku membaca Al Qur’an, aku sama sekali tak tahu apa itu Islam. Gambaran yang disajikan orang barat adalah sesuai yang disajikan pada mereka. Kebanyakan orang tidak peduli. Sebagian ada yang mengetahui tapi disembunyikan pada masyarakat. Pandanganku tentang Islam adalah seperti kebangsaaan. Tetapi ketika aku baca Al Qur’an, pesannya ditujukan pada seluruh manusia, di situlah aku baru tersentak dan fitrah kemanusiaanku mulai bangkit. Aku sudah banyak membaca buku, tapi belum pernah membaca sesuatu pun seperti Al Qur’an. Sebab ucapannya sama sekali berbeda. Maka akupun mulai menyadari, dan dengan seksama perlahan-lahan mulai mempelajarinya. Buku ini bukan karangan manusia dan akupun mulai mengerti tentang peranan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.

Demikianlah jalanku pada Islam. Setelah satu tahun atau lebih aku memeluk Islam, aku menyimpulkan bahwa hidup ini tak akan ada artinya kecuali jika kita mengikuti kebenaran. Dan kebenaran itu tidak lain adalah Islam (keselamatan). Setelah hatiku mulai terpanggil maka aku hanya ingin menjadi muslim. Dan pada tahun 1977 aku mengikrarkan diriku sebagai muslim dengan mengucap dua kalimat syahadat.

Minggu, 21 Desember 2008

YASMIN 2/III

TAUBAT DAN AMPUNAN ALLAH

“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”
(QS 66 : 8)

DARI REDAKSI

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Tak terasa penghujung tahun sudah di mata kita. Tahun hampir berganti lagi. Siap tidak siap kita harus menghadapi tantangan baru yang menunggu di tahun depan. Oleh karena itu, kami pada edisi ini ingin mengajak pembaca untuk mengevaluasi semua amal yang telah kita perbuat di tahun lalu. Kalau ada kesalahan-kesalahan yang terlanjur kita kerjakan maka bersegeralah memperbaiki dengan bertaubat. Karena sesungguhnya Allah maha luas pengampunannya.

Oh, ya, Pembaca, apa rencana Anda untuk tahun baru ini? Sekedar melanjutkan rencana-rencana pada tahun lalu yang belum tercapai atau ada rencana besar yang ingin Anda wujudkan tahun ini? Apa pun itu, selama mengandung kebaikan, semoga Allah memberi kekuatan dan kemudahandalam mewujudkannya, namun tentu asal ada ikhtiar yang kta lakukan. Selamat menelaah edisi ini semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

KAJIAN UTAMA

Manusia diciptakan Allah untuk semata-mata mengabdi kepada-Nya, menurut aturan yang ditentukannya. Tetapi berbeda dengan malaikat yang senantiasa tunduk patuh tanpa menyeleweng, pengandian manusia tak luput dari tempelan dosa-dosa. Ada dua sebab mengapa manusia berbuat dosa.
Pertama : kelemahan manusia sendiri, naik jasmani, rohani, perhitungan dan sebagainya. Kelemahan-kelemahan inilah yang sering melalaikan manusia dari tugas pengabdian yang harus dijalaninya. Karena itu sebagai orang beriman kita harus sadar akan kondisi ini dengan senantiasa mengintropeksi diri terhadap kemungkinan adanya kesalahan dalam mencari ridho Allah dalam kehidupan ini.
Kedua : karena adanya penyalahgunaan potensi keimanan yang memang ditanamkan Allah pada manusia untuk kelangsungan hidupnya. Yaitu kecintaan pada kesenangan-kesenangan hidup jangka pendek seperti dijelaskan Allah dalam QS Ali Imron ayat 14 : ”Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa-apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang ditumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.”
Karena potensi manusia bisa berbuat dosa (maksiat), maka kita harus memahami bentuk-bentuk dari maksiat tersebut. Pada hakekatnya dosa atau maksiat adalah semua bentuk dan jenis pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah. Ada maksiat besar dan ada maksiat kecil. Maksiat yang terbesar adalah syirik. Syirik ini merupakan dosa yang tidak bisa diampuni Allah dan menggugurkan segala amal dan perbuatan.

SQ Al An’am 28 : ”Seandainya mereka mempersekutukan Allah pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.’ Begitu fatalnya dosa besar ini sehingga jika kita meninggalkannya akan akan dapat menghapus dosa-dosa kecil.

QS An Nisa 31 : ” Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antar dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (syurga).”

Masih termasuk dosa besar tapi diampuni Allah adalah : durhaka pada orang tua, lari dari perjuangan, berzina, mencuri, dan hal-hal sejenisnya. Adapun maksiat kecil bila dilakukan terus-menerus maka akan menutup hati.
Dosa kecil bisa menjadi dosa besar bila : dianggap remeh, dilakukan secara terang-terangan, dilakukan oleh orang yang berpengaruh (diteladani). Betapapun manusia tidak dapat melepaskan diri dari percikan-percikan dosa, namun pintu taubat masih terbuka lebar. Keterkungkungan dalam dosa tidak perlu membuat kita pesimis dari ampunan Allah. Manusia melakukan maksiat adalah wajar, tapi bila tidak mau bertaubat, itulah yang tidak wajar.
Dosa seberat apa pun dapat diperbaiki dengan taubat. Seperti dalam firman Allah QS Az Zumar 53 : ”Katakanlah : Hai hambaKu yang melampaui batas atas diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Rasulullah SAW juga mengajak umatnya untuk bertaubat dalam sabdanya : ”Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mintalah ampun kepadaNya. Maka sesungguhnya aku bertaubat sehari 100 kali.” (HR Muslim)

Taubat yang sebenar-benarnya disebut taubat nasuha (taubat yang sebenar-benarnya), yaitu :
1. Melepaskan diri dari maksiat (dosa) tersebut selamanya
2. Menyesali perbuatan itu
3. Bertekad untuk meninggalkan perbuatan itu dan tidak mengulanginya lagi

Sedangkan maksiat yang berhubungan dengan manusia berarti juga harus :
1. Sedapat mungkin meminta maaf pada yang bersangkutan
2. Mendoakan agar orang yang bersangkutan diampuni Allah

Taubatan nasuha membuat kita jauh dari segala dosa yang dilakukan tanpa ada keraguan, semata ikhlas karena Allah. Jadi ada motivasi yang benar dan kuat, dengan demikian Insya Allah kita sukses di dunia dan akherat karena termasuk orang-orang yang bertaqwa.
Sebelum terlambat, marilah kita bertaubat sekarang juga, karena kematian datangnya seringkali tanpa permisi dan tanpa diduga-duga. Mudah-mudahan kita termasuk prang-orang yang bertaqwa. Amin.


KISAH

MUTIARA DI BALIK TAUBAT

Ketika Rasulullah saw sedang berdialog dengan para sahabat, tiba-tiba datanglah seorang perempuan muda seraya berkata, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya saya sedang mengandung janin akibat berzina. Karena itu, rajamlah saya.”

Karena Nabi tidak menjawab, maka wanita tadi mengulanginya sampai 3 kali. Akhirnya beliau menjawab dengan lembut setelah itu.

”Pulanglah engkau wahai wanita muda, semoga rahmat allah selalu bersamamu.” Maka kembalilah wanita muda itu ke kampungnya. Sesungguhnya Rasulullah sadar benar, bahwa hukuman bagi pezina adalah dirajam. Akan tetapi beliau menyuruh wanita itu pulang. Karena di rahimnya ada janin yang tidak berdosa. Kalau wanita itu dirajam sekarang, pasti janinnya juga ikut mati. Suatu masa setelah berbulan-bulan, ternyata wanita itu kembali lagi kepada Rasulullah saw. Dia berkata, ”Ya Rasulullah, sekarang saya sudah melahirkan, maka rajamlah saya.”

Lagi-lagi Rasulullah menyuruh wanita itu pulang. Ia menyuruh supaya anaknya disusui dan dipelihara secara cukup selama 2 tahun. Setelah waktu itu, wanita ini kembali datang lagi pada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, anak saya sudah lepas dari susuan, maka rajamlah saya.”

Maka Rasulullah saw menyuruh para sahabat mempersiapkan lubang untuk rajam. Wanita itu akhirnya dikubur setengah badan dan setiap orang yang lewat melemparinya dengan batu. Seorang sahabat dengan kemarahan luar biasa mencaci maki wanita itu sambil melempari batu. Melihat hal itu serta merta Rasulullah saw menegurnya dan berkata, ”Ketahuilah sahabatku, sesungguhnya Allah telah mengampuni wanita itu dan menyediakan syurga baginya.”

Mendengar penjelasan Rasulullah saw, sadarlah kaum mukminin bahwa Allah menerima taubat wanita itu dan melimpahinya dengan karunia yang besar.
Demikianlah, meskipun sadar bahwa pengakuan zinanya itu menyeret dirinya pada hukuman yang besar dan berat, namun wanita itu menghadapinya dengan ikhlas dan tabah. Ia paham dan tahu, penderitaannya di dunia akan membebaskannya dari adzab Allah di akherat. Ia bertekad untuk taubatan nasuha.

FIQIH

Akibat yang ditimbulkan dosa dan maksiat
1. Menjauhkan pertolongan Allah
”Wahai bumi! Telanlah airtmu dan wahai langit (hujan) berhentilah. Dan airpun disurutkan dan perintahpun diselesaikan, dan kapalpun berlabuh di Gunung Judi dan dikatakan, Binasalah orang-orang yang zalim.” (QS Hud : 44)

2. Menutup dan menghancurksn fungsi hati sebagai sumber keimanan
”Dan sungguh, akan Kami isi neraka jahanam dengan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tapi tidak untuk memahami ayat-ayat Allah.” (QS Al A’raf : 179)

3. Membuat hidup tidak berkah
”Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” (QS Al A’raf : 96)

4. Membuat rusaknya lingkungan hidup
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS Ar Rum : 41)

Rabu, 25 Juni 2008

YASMIN 9

Buletin Yasmin Edisi 9 Tahun II Rajab 1429 H

KELUARGA SAKINAH

DARI REDAKSI

Assalamu’alaikum wr wb
Apa kabar Pembaca? Semoga kabar baik selalu menyertai Anda. Pada edisi ini, kami akan membahas tentang keluarga sakinah. Seperti kita ketahui, rumah tangga sebagai pondasi dalam membangun kejayaan umat, memperoleh perhatian besar dalam Islam melalui syariatnya yang hanif. Maka, ia terangkan hukum-hukum dan adab-adab yang sering terjadi pada rumah tangga. Pun perjalanan rumah tangga Rasulullah saw dan para sahabatnya serta rumah tangga para nabi-nabi terdahulu menjadi contoh yang baik bagi kita dalam membina keluarga. Bersamaan itu, muncul rasa keprihatinan terhadap banyak rumah tangga yang memang tidak berpondasi kokoh pada mulanya. Sehingga memudahkan musuh-musuh Islam memporakporandakan kesatuan dan persatuan kaum muslimin.

Pada rubrik profil, kami tampilkan Ustadzah Maah Marlina. Semoga kisah para Ustadzah yang kami tampilkan di rubrik ini dapat menjadi inspirasi bagi Pembaca. Selain itu kami tampilkan juga kisah keluarga Nabi Ibrahim dan tips memotivasi anggota keluarga dalam rangka membentuk keluarga sakinah. Semoga Allah swt memudahkan langkah kita dalam menggapai ridho-Nya. Amin.

Wassalamu’alaikum wr wb

KAJIAN UTAMA

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan anak kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS Al Furqan : 7)

Setiap kita mendambakan terwujudnya keluarga bahagia. Rumah sebagai tempat bernaung menjadi tempat yang nyaman dan aman. Nyaman karena masing-masing Anggota keluarga mengerti posisinya, menjalankan kewajiban dan mendapatkan haknya. Semangat beribadah menjadi spirit keluarga, kasih sayang antar anggota menjadi irama suasana keluarga. Kenyamanan yang tercipta membuahkan rasa aman dalam rumah tangga, aman di dunia dan aman di akhirat.

Dalam membentuk keluarga muslim yang berbahagia, landasan rumah tangga adalah ibadah sesuai dengan tujuan kita diciptakan oleh Allah di dunia ini

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Sebagai buktinya, kita harus menjalankankan nilai-nilai Islam secara menyeluruh dalam keluarga, seperti firman Allah dalam Al Qur'an,"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan nya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS.Al-Baqarah: 208).

Untuk itu dibutuhkan nahkoda yang mampu menjadi teladan yang nyata, agar anggota keluarga mudah diarahkan ke tujuan hidup, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Hidupkan suasana saling tolong –menolong agar tugas-tugas yang ada terasa ringan dalam pelaksanaan “…..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran….” (QS. Al-Maidah: 2).

Lalu bahu-membahu untuk menjauhkan hal-hal yang tidak sesuai syari’at dari kehidupan keluarga, agar selamat di dunia dan akhirat. “Hai orang-orang yang beriman , peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6).

Maka dari itu, kita harus menyiapkan diri secara matang sebelum membentuk kehidupan berumah tangga. Persiapan rohani dan jasmani, materi dan immateri. Bekali diri dengan pengetahuan terutama yang berkaitan dengan langkah yang benar dalam membentuk keluarga bahagia. Pilihlah calon suami atau istri yang taat dalam beragama dan sehat secara biologis. Diperlukan sosok suami yang bertanggung jawab dalam mencukupi kebutuhan materi keluarga, dan juga istri yang mampu mengatur keuangan yang ada dengan sebaik-baiknya. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi….”(QS Al-Qashash: 77)

Betapa indahnya kalau kita hidup dalam keluarga seperti itu, betapa bahagianya kalau kita mampu menciptakan suasana rumah tangga yang sakinah (tenang suasananya), mawaddah (saling mencintai), warahmah (saling mengasihi). Meskipun mewujudkan hal itu tidak mudah, tetapi kita harus berjuang untuk mewujudkannya. Kita harus bekerja sama melawan berbagai rintangan yang bisa menghambat terciptanya keluarga yang bahagia. Keluarga muslim adalah keluarga yang paling berbahagia, karena kebahagiaan tidak hanya di dunia, tetapi berlanjut sampai ke akhirat.

Sumber : Majalah Al-Iman bil Ghoib, Edisi 86 Th.4

FIQH

Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Keluarga

1. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya, Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari dirimu sendiri agar kamu cenderung (tentram dan tenang) dengan mereka, lalu Allah menjadikan diantara kamu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”( Ar-Rum: 32)

2.”Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak “ (An-Nisa :19)

3. “ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. “(Al-Baqarah: 228)

4. “Istri-istri kamu adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)

5. “Hai orang-orang yang beriman , peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…..”(At-Tahrim: 6)

6. “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhan kami perkenankanlah do’aku .”(Ibrahim: 40)

7. “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut , ketika ia berkata kepada anak-anaknya ; “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

KISAH

KELUARGA NABI IBRAHIM

Allah swt telah menjadikan keluarga Nabi Ibrahim as (alaihis salam, baginya kesejahteraan) sebagai salah satu keluarga teladan terbaik yang pernah hadir di tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing) (QS. 3:33). Nabi Ibrahim dikenal sebagai seorang yang amat lembut hatinya dan menghiba pada saat bermunajat dan berdoa kepada Rabb-nya. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. (QS. 11:75).

Dan diantara doa Nabi Ibrahim kepada Allah swt adalah:
Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan do'aku. (QS. 14:40)

Doa agar keluarganya senantiasa menjadi penegak sholat ini beliau panjatkan seiring dengan ujian berat berupa perintah Allah untuk meninggalkan istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail yang masih bayi, yang ia telah nanti-nantikan kehadiran berpuluh tahun, di sebuah tanah gersang yang terpencil ...

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. 14:37)

Allah swt memberi beliau ilham bahwa dibalik ujian berat ini ada hikmah besar, yaitu agar anak-cucu keturunannya mendirikan sholat. Dan pernyataan akan pendirian sholat ini mendahului permohonan Ibrahim akan rejeki kebaikan manusia dan rejeki buah-buahan bagi keluarganya. Sebab pada sholatlah hati yang khusyu menghadap langsung kepada Allah swt. Dan ketika hubungan seorang manusia dengan Allah swt baik, maka akan melimpahlah segala kebaikan kepadanya dari berbagai jalan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan Dia tak akan pernah menyia-nyiakan amal kebajikan hamba-hambaNya.

Tahun berganti tahun, tanah tandus pun mulai menghijau dengan karunia mata air yang melimpah airnya. Tanah yang sepi dan gersang pun mulai dikunjungi orang-orang dan bahkan menjadi pusat keramaian. Allah swt selalu menepati janjiNya dan selalu menyayangi hamba-hambaNya yang senantisa memenuhi perintahNya, seperti kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan (Ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia" Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS. 2:124)

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku', dan yang sujud. (QS. 2:125)

Sumber : http://adijm.multiply.com

TIPS

Kiat memotivasi anggota keluarga dalam rangka membentuk keluarga sakinah :

1. Ikhlas
“Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS.Al-Hijr 39-40)

2. Iman yang lurus dan tawakkal
“Sesungguhnya syetan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersetukannya dengan Allah.” (QS.An-Nahl: 99-100)

3. Selalu waspada
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu). Karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

4. Komitmen dengan ajaran Islam
Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu hari Rasulullah menggaris lurus di tanah, lalu beliau membuat garis-garis lain di kanan dan kirinya. Lalu beliau bersabda, “yang ini (garis lurus) adalah jaln Allah. Sedangkan yang lainnya (garis kanan kirinya) adalah jalan dimana syetan mengajak kalian kepadanya. Lalu beliau membaca ayat 153 dari surat Al-An’am.” (HR. Abu Daud, Ahmad dan Hakim)

5. Banyak berdzikir
Rasulullah bersabda, “….Dan aku perintahkan kalian untuk berdzikir kepada Allah yang banyak. Perumpamaan orang yang banyak dzikir itu seperti orang yang di cari-cari atau dikejar-kejar oleh musuh. Lalu ia mendapatkan benteng kokoh yang bisa melindungi dirinya dari kejaran musuh tersebut. Begitulah seorang hamba, dia tidak akan selamat dari gangguan syetan kecuali dengan berdzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadist hasan shahih).

6. Istighfar dan bertaubat
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya syetan telah berkata , ‘Demi kemuliaan-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh masih ada dalam badan mereka (masih hidup),’Maka Allah menimpalinya ,”Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampun (beristighfar) kepada-Ku (HR. Ahmad, Al-Hakim, Thabrani dan Abu Ya’la).

7. Bergabung dalam komunitas muslim (berjamaah)
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan kenikmatan surga, maka hendaklah ia senantiasa hidup berjamaah. Karena syetan itu bersama dengan orang-orang yang suka sendirian. Ia akan semakin jauh bila orang tersebut berdua.” (HR.Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadist hasan shahih)

PROFIL

USTADZAH MAAH MARLINA

Ustadzah yang lahir di Sumedang, pada tanggal 12 Mei 1955 ini sudah lama berkecimpung dalam dunia dakwah. Meski pendidikan formal beliau hanya sampai Madrasah Tsanawiyah, tak menyurutkan langkah ibu yang tinggal di Jl. Subur RT 15/01 Pesanggrahan ini untuk terus menuntut ilmu dan berdakwah. Kegiatan ibu 3 orang putra ini, selain sibuk membina Majelis Ta’lim Rhoudhotul Mutafaizin (yang kini berganti nama menjadi Ar Royyan), juga aktif berkegiatan di lingkungan beliau, misalnya Arisan RT, pengajian RW, Pengajian Kelurahan dan lain-lain.

Semangat beliau yang tinggi dalam berdakwah dan menuntut ilmu, membuat beliau diangkat sebagai penyuluh di KUA Pesanggrahan. Di tengah aktivitas yang cukup padat itu, Ibu Maah masih sempat membantu suami mencari nafkah dengan berjualan nasi uduk, lontong sayur dan gorengan. Sedang suami beliau pekerjaannya adalah sebagai sopir derek, jadi kalau ada mobil yang mogok baru mendapat order. Beliau kini juga merawat dua orang cucunya yang sudah tidak mempunyai ibu karena ibunya sudah meninggal dunia. Di tengah himpitan hidup, Ibu Maah tetap tegar dan semangat menjalani kehidupan, melebur dalam dunia dakwah. Semoga Allah senantiasa memberi kesabaran dan keimanan kepada kita, untuk senantiasa istiqomah di jalan dakwah. Semoga kisah perjalanan hidup Ibu Ustadzah Maah dapat kita ambil hikmahnya.

(Sumber : Zubaidah)

YASMIN 10

Buletin Yasmin Khusus Ramadhan, Edisi 10 Tahun II Sya’ban 1429 H

DARI REDAKSI

Assalamu’Alaikum wr wb

Apa kabar Pembaca? Tak terasa bulan Ramadhan akan kembali menyapa kita. Marilah kita bersama-sama berbenah diri untuk menyambut ibadah di bulan yang mulia ini. Dalam Yasmin Edisi Khusus Ramadhan ini, kami akan memberikan tips menjaga kesucian hati dan panduan amal ibadah unggul di bulan Ramadhan. Semoga kita bersama-sama dapat mempersiapkan diri dan menjaga amal Ramadhan kita hingga fajar Idul Fitri tiba.

Wassalamu’alaikum wr wb

MENJADIKAN RAMADHAN LEBIH BERMAKNA

Bulan Ramadhan adalah bulan rahmat dan ampunan. Ada banyak amal ibadah yang akan dilipatgandakan pahalanya di sisi Allah swt. Perbanyaklah do’a kepada Dzat yang menggenggam umur kita agar kita bisa menikmati indahnya bulan puasa. Sucikan hati, bersihkan jiwa. Bekali diri dengan ilmu dan pengetahuan. Bersihkan iman dari kesyirikan, perbanyak istighfar dan ampunan. Bagaimana kita bisa menikmati bulan suci, kalau hati masih kotor.

Rasulullah bersabda, “Ketahuilah bahwa dalam tubuh ini ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh jasad. Tapi bila segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruh jasad. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (HR.Bukhari & Muslim)

Apabila hati kita sedang sakit, maka kita harus segera mengobatinya agar tidak layu dan mati. Ada racun-racun hati yang harus kita waspadai. Apabila salah satu racun ini telah menjangkiti hati kita, maka harus segera dihilangkan. Racun hati tersebut adalah.

1.Banyak Bicara
Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya seseorang itu bisa saja berbicara suatu kalimat dan ia berpikir bahwa hal itu tidak apa-apa, padahal ucapannya itu bisa menjerumuskan ia ke dalam neraka 70 tahun lamanya (HR.Tirmidzi)

2.Pandangan Liar
Rasulullah bersabda : “Mata bisa berzina, dan hati juga bisa berzina. Zina mata adalah memandang (yang diharamkan), dan zina hati adalah berharap (untuk melaksanakan keinginan), meskipun kemaluannya terkadang membenarkan dan terkadang mendustakannya.” (HR.Ahmad)

3.Banyak Makan
Rasulullah bersabda :”Tidaklah manusia mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suap yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Kalau manusia sedang berselera, maka sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga lagi untuk minum, dan sepertiganya lagi untuk nafasnya.” (HR.Ibnu Majah)

4.Pergaulan Bebas
Rasulullah bersabda :”Seseorang itu akan terpengaruh pada perilaku teman dekatnya. Maka hendaklah seseorang memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR.Tirmidzi)
Sumber : Majalah Al-Iman bil Ghoib, Edisi 89 Th.4

15 IBADAH UNGGULAN DI BULAN RAMADHAN

Pada hakikatnya semua bentuk ibadah sangat dianjurkan untuk kita perbanyak di bulan Ramadhan. Namun karena waktu dan tenaga kita yang terbatas, maka kita harus mendahulukan ibadah yang lebih utama daripada yang utama. Mendahulukan yang wajib dari yang sunnah. Memilih yang sunnah dari yang mubah. Berikut ini merupakan ibadah-ibadah unggulan dan harus kita prioritaskan di bulan Ramadhan

1.Puasa
Abu Umamah berkata,”Aku pernah mendatangi Rasulullah dan berkata,’Perintahkanlah aku untuk melaksanakan amalan yang bisa membawa aku ke surga!’ Beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu berpuasa, karena ia adalah ibadah yang tiada tandingannya. ’Lalu aku mendatanginya lagi dan meminta hal yang sama. Beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu berpuasa’.”(HR.Ahmad)

2.Shalat Berjama’ah
Pada bulan Ramadhan, usahakan untuk shalat lima waktu dengan berjama’ah. Bagi yang laki-laki berjama’ah di masjid, bagi yang perempuan bisa berjama’ah di masjid atau di rumah. Berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah bisa mencuci dosa-dosa, dan akan bertambah nilainya bila kita dapat mengikuti takbir pertama imam.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalat berjama’ah (ikhlas karena Allah) selama 40 hari dan selalu menjumpai takbir pertama (imam), maka ia akan mendapat dua pembebasan. Bebas dari azab neraka dan bebas dari kemunafikan.” (HR.Tirmidzi)

3.Membaca Al-Qur’an
Abdullah bin ‘Amr pernah bertanya kepada Rasulullah”Dalam berapa hari saya mengkhatamkan Al-Qur’an?” Rasulullah menjawab , ‘Khatamkanlah Al-Qur’an dalam setiap bulan’. Abdullah berkata ,’Wahai Nabi Allah, aku kuat bila kurang dari itu ‘. Rasulullah bersabda Khatamkanlah dalam dua puluh hari’. Abdullah berkata, ‘Wahai Nabi Allah , aku kuat bila kurang dari itu’.Rasulullah bersabda, ’Khatamkanlah dalam sepuluh hari.’ Abdullah berkata, ‘Wahai Nabi Allah aku kuat bila kurang dari itu.’ Rasulullah bersabda, ’Khatamkanlah dalam tujuh hari dan jangan kau kurangi lagi’……..(HR.Bukhari dan Muslim)

4.Tarawih dan Qiyamullail
‘Amr bin Murroh Al-Juhani, “datang seorang laki-laki dari Qudho’ah ke Rasulullah dan bertanya,”Wahai Rasulullah apa pendapatmu, jika aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kamu adalah utusan Allah, dan aku tegakkan shalat lima waktu, aku berpuasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan shalat tarawih dimalamnya dan aku tunaikan zakat?” Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang mati dalam keadaan seperti itu, maka ia akan masuk golongan orang-orang jujur dan orang-orang mati syahid.”(HR.Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban)
Begitu besar keutamaan yang didapatkan oleh orang-orang yang rajin melaksanakan sholat tarawih, karena ibadah ini berat bagi mereka yang lemah imannya.

5.Shalat Dhuha
Waktu dhuha dimulai dari matahari terbit setinggi dua tombak sampai matahari hampir tepat diatas kepala kita. Jumlah rakaat shalat dhuha mulai dari dua sampai dua belas rakaat.
Dalam hadist qudsi driwayatkan,”Allah berkata,’Wahai Ibnu Adam, shalatlah kamu empat rakaat dipermulaaan siang (dhuha), maka akan Kucukupi kebutuhanmu hari itu.”(HR.Tirmidzi)

6.Shalat Ba’da Wudhu
Air wudhu tidak hanya membersihkan kotoran dari tubuh kita tapi juga membersihkan dosa-dosa kita, untuk melengkapi proses pencucian dosa tersebut, kita dianjurkan melakukan shalat dua rakaat setelah wudhu. Seperti sabda Rasulullah; “Tidaklah seorang muslim berwudhu dan ia membaguskan wudhunya , lalu ia melaksanakan shalat dua raka’at , khusyu dengan segenap hatinya , kecuali ia berhak masuk surga. (HR.Muslim)

7.Menyegerakan Berbuka
Begitu terdengar adzan Maghrib, kita disunnahkan untuk menyegerakan berbuka dengan makanan ringan atau sekedar minum air, dan jangan lupa berdo’a, karena do’a orang yang berbuka puasa itu mustajab. Hal ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah ; “Kondisi orang yang berpuasa akan senantiasa baik-baik saja, selama mereka menyegerakan berbuka. Segerakanlah berbuka, karena orang-orang Yahudi kalau berpuasa suka mengakhirkan berbuka.”(HR.Ibnu Majah)

8.Mengakhirkan Sahur
Rasulullah bersabda; “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur itu ada keberkahan”(HR.Bukhari)
Usahakanlah sahur kita selesai 10 menit sebelum adzan shubuh dan setelah itu kita bersiap-siap shalat shubuh berjama’ah.

9.Dua Rakaat Shalat Fajar
Ketika telah selesai terdengar adzan shubuh shalatlah dua rakaat shalat sunnah fajar karena Rasulullah bersabda, “Dua rakaat shalat sunnah fajar (sebelum Shubuh), nilainya lebih baik dari dunia dan apa yang dikandung didalamnya.”(HR.Muslim)

10.I’tikaf 10 hari
I’tikaf adalah ibadah yang istimewa di bulan Ramadhan, karena sejak hijrah ke Madinah, Rasulullah tidak pernah meninggalkan ibadah ini.
Syarat I’tikaf. Pertama, niat. Kedua, puasa. Ketiga, harus berada di masjid untuk bertaqarrub kepada Allah dan berdiam diri disitu. Keempat, tidak mengumpuli istrinya.
Wanita boleh beri’tikaf dengan syarat; Pertama, ada izin dari suaminya (biila sudah bersuami). Kedua, diutamakan I’tikaf di masjid yang dekat rumahnya dan ada tempat khusus perempuan. Ketiga, jika haidh atau nifas I’tikafnya batal dan boleh baginya untuk melanjutkan apabila sudah suci. Keempat, ada wanita lain yang menemani.

Adab I’tikaf
a.I’tikaf di masjid jami’
Kita diperkenankan beri’tikaf sendiri-sendiri, asal masjid yang digunakan adalah masjid jami’, yaitu masjid yang didalamnya diselenggarakan shalat berjama’ah lima waktu. Tapi alangkah baiknya kalau kita beri’tikaf di masjid yang menyelenggarakan I’tikaf bersama. Kebersamaan akan melahirkan kekuatan dan semangat untuk beribadah

b.Memperbanyak shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an
Apa yang kita lakukan ketika beri’tikaf mencerminkan wujud penghambaan kita kepada Allah. Perbanyaklah shalat, berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Bacalah Al-Qur’an dengan merenungi maknanya, menghayati kandungannya sehingga hati kita menjadi lebih tenang.

c.Menjauhi segala hal yang tidak berguna
Disamping disunahkan untuk melakukan kebaikan, orang yang sedang beri’tikaf juga diharapkan mampu menjaga diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. Misalnya jangan sampai berkata yang sia-sia apalagi sampai membicarakan keburukan orang lain.

d.I’tikaf di malam hari raya
Ada baiknya bila I’tikaf dilanjutkan hingga malam hari raya, karena bisa langsung disambung dengan shalat sunnah idul fitri. Rasulullah bersabda; “Barangsiapa shalat malam (I’tikaf) pada dua malam hari raya karena mengharap ridho Allah, maka hatinya tidak akan mati pada saat hati yang lain mati.” (HR.Ibnu Majah)

11.Beribadah di Lailatul Qadr
Malam Lailatul Qadr adalah malam yang istimewa, Allah mengistimewakannya dengan memberikan pahala yang nilainya lebih baik daripada 1000 bulan bagi yang beribadah pada malam tersebut.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa beribadah di Lailatul Qadr karena iman dan ikhlas, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah berlalu.”(HR.Bukhari)

12. Umroh
Ibnu Abbas berkata, Rasulullah pernah berkata kepada seorang wanita dari Anshar yang bernama Ummu Sinan, “Umroh di bulan Ramadhan nilainya sama dengan ibadah haji atau ibadah haji bersamaku.”(HR.Bukhari dan Muslim)
Bagi kaum muslimin yang tidak mampu umroh di bulan Ramadhan, dapat melakukan ibadah berikut ini; Rasulullah menegaskan,”Barangsiapa shalat shubuh berjama’ah, lalu duduk di masjid seraya berdzikir sampai terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat, maka ia mendapat pahala seperti pahala haji dan umroh sempurna, sempurna, sempurna.”(HR.Tirmidzi)

13.Membantu Orang Lain
Dalam bulan Ramadhan kita dididik untuk memiliki rasa empati dan simpati kepada sesama.Alangkah baiknya dalam bulan Ramadhan ini rasa empati dan simpati tersebut kita wujudkan dengan memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan, sesuai dengan kemampuan kita.
Rasulullah bersabda; “Sesama Muslim adalah saudara.Tidak boleh mendzalimi, menghina atau merendahkan satu sama lain. Barangsiapa memenuhi hajat atau kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa memberi solusi seorang muslim dari kesulitannya , maka Allah akan memberikan solusi dan pertolongan untuknya dari kesulitan di hari kiamat.” (HR.Bukhari)

14.Zakat dan Shadaqah
Termasuk ibadah unggulan di bulan Ramadhan adalah berinfaq, bershadaqah, dan berzakat.Terutama zakat yang wajib, yaitu zakat fitrah dan zakat maal.
Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah adalah sosok yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, saat beliau menemui malaikat Jibril. Beliau ditemui malaikat Jibril setiap bulan Ramadhan untuk bertadarrus Al-Qur’an. Sungguh saat itu Rasulullah sangat dermawan, melebihi dermawannya tiupan angin.”(HR.Bukhari)

15.Berdo’a
Do’anya orang yang berpuasa sangat berpotensi untuk dikabulkan lebih cepat daripada do’anya orang yang tidak puasa. Pada bulan ini seorang hamba sedang sangat dekat dengan Allah karena banyaknya ibadah yang dilakukan dan berkurangnya ma’siat yang dikerjakan.

Semoga kita diberi kesehatan dan kekuatan untuk dapat menjalankan ibadah-ibadah tersebut dan menjadi golongan orang-orang yang meraih kemenangan.

Minggu, 08 Juni 2008

YASMIN 8

Yasmin 8/II Jumadil akhir 1429 H, ISRO' MI'ROJ
Buletin Yasmin Edisi 08/II Jumadil Akhir 1429 H
Menuju Muslimah Taqwa, Terampil, Cerdas


DARI REDAKSI
Assalamu’alaikum wr wb
Bekerja adalah bentuk ibadah kepada Allah SWT. Bekerjalah kamu, maka Allah dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu. Begitulah firman Allah dalam Al Qur’an untuk memberi semangat pada kita untuk tetap bekerja. Meskipun kondisi sekarang semakin berat, dengan naiknya harga BBM yang diikuti oleh meroketnya harga barang-barang kebutuhan pokok. Semoga Allah memberi kita kesabaran dan kekuatan untuk melewati masa-masa sulit ini. Amin.

Pembaca, sebentar lagi kita akan memperingati hari besar Islam, yaitu Isro Mi’roj. Semangat Isro Mi’roj adalah semangat untuk menerima amanah yang berat, amanah yang harus dilaksanakan secara konsisten, kontinyu, disiplin dan penuh dengan nilai ibadah. Ibadah sholat adalah bentuk ibadah yang sarat dengan nilai pembelajaran. Kita belajar untuk disiplin, egaliter (bahwa setiap orang mempunyai kedudukan sama di hadapan Allah), sebaliknya dalam sholat kita bisa bebas mencurahkan segala kepahitan hidup hanya kepada Sang Khalik. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dan solusi setiap permasalahan hidup kita.

Semoga bahasan kami di edisi ini bermanfaat. Tetap semangat dan optimis, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan amal ibadah kita, sekecil apapun.
Semoga kita diberi Allah kesabaran, kekuatan dan ketegaran. Amin.
Wassalamu’alaikum wr wb

KAJIAN UTAMA

''Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'' (QS Al-Isra [17]: 1).
Isra Mi'raj terjadi ketika Nabi Muhammad SAW berada dalam situasi tekanan dan hinaan yang kuat dari kelompok Musyrikin Makkah seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan sekutunya. Dalam waktu beriringan Nabi Muhammad SAW baru saja ditinggal wafat istrinya tercinta, Khadijah Al-Kubra, pendamping sejati, pembela, dan pendukung utama perjuangan dakwahnya. Pada saat yang sama, beliau juga baru saja berduka karena pamannya, Abu Thalib, meninggal yang menjadi pembela setianya. Maka, untuk memberikan hiburan ruhani, Allah memperjalankan beliau dengan Isra dan Mi'raj.
Isra Mi'raj terbagi dalam dua peristiwa. Pertama, Isra, yakni Nabi Muhammad diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Mekkah hingga ke Masjidil Aqsha di Palestina. Masjid Al-Haram, nama yang diberikan oleh Allah di dalam Alquran, disebut juga dengan Baitullah, terletak di Makkah, negeri yang diberkahi dan menjadi petunjuk semua manusia. Sesuai dengan firman Allah :
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah manusia) ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS Ali Imran [3]: 96)
Makkah disebut juga dengan 'Ummul Qura' (induknya kota)..
Ketika itu Rasul SAW sedang di dalam Al-Hijr Baitulllah, berbaring istirahat bersama dua orang (Hamzah & Ja'far ra), Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil as datang kepadanya. Mereka membawa Nabi SAW ke telaga Zam-zam.
Jibril membelah dada Rasul dari tenggorokan hingga ke ujung perut, kemudian mengisinya dengan air dari Zamzam untuk mensucikan hati dan meluaskan dadanya. Dia mengambi hati dan membasuhnya tiga kali, menghilangkan semua yg salah. Setelah itu Jibril mengisi hikmah, keyakinan, hilm (kecerdasan, sabar, kelembutan & kebaikan), ilmu, kepastian dan kepasrahan ke dalam dadanya, kemudian menutupnya.
Jibril berangkat bersama Nabi SAW. Jibril di samping kanan buraq, sedang Mikail di samping kiri.
Kedua, Mi'raj, yakni Nabi Muhammad SAW dinaikkan oleh Allah dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi di langit. Di sini beliau mendapat perintah langsung dari Allah berupa shalat fardu lima waktu.
Setelah malam Isra Mi'raj, paginya Nabi Muhammad SAW menyampaikan kepada masyarakat sekitar. Beragam jawaban pun beredar, ada yang menjadi ragu (munafikin), ada yang menentang (musyrikin) dipelopori Abu Jahal, dan ada yang membenarkannya (mukminin) dipelopori Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Firman Allah:
''Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.'' (QS An-Najm [53]: 12-14).
Sebagai umat Nabi Muhammad SAW kita selayaknya mengikuti jejak Abu Bakar, yakni menjadi orang-orang yang selalu membenarkan dan menjadi pembela kebenaran secara konsekuen dan konsisten di dalam kehidupan sehari-hari.
Pada Isra' Mi'raj, Allah memberikan perintah sholat wajib. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk meninggalkan sholat. Jika kita sakit tak mampu menunaikan dengan berdiri, boleh ditunaikan dengan duduk. Tak sanggup duduk boleh secara berbaring. Tak boleh dengan berbaring boleh dengan isyarat. Tak ada air boleh tayammum, pendek kata ibadah sholat mestilah ditunaikan dalam keadaan apapun juga dan dimanapun kita berada. Kecuali jika timbul sesuatu halangan yang memang telah ditakdirkan Allah seperti gila, pingsan, tak sadar diri ataupun lainnya.
Sholat Subuh adalah sholat yang pertama kali diperintahkan. Karena peristiwa Isra' Mi'raj sendiri terjadi pada saat malam hari. Subuhnya Rasulullah sudah tiba kembali di tempat semula. Mungkin ini juga hikmah bagi kita semua, karena sholat Subuh adalah sholat yang sulit untuk di laksanakan, di mana pada saat itu banyak manusia yang masih terlelap dalam tidurnya. Sebelum diperintahkannya sholat wajib 5 waktu ini, Rasulullah melaksanakan sholat sebagaimana Nabi Ibrahim.
Kita tidak hanya diperintahkan untuk mengerjakan sholat, tetapi juga menegakkan sholat.
Demikianlah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra' Mi'raj. Semoga semakin menambah keimanan kita kepada Allah, kitab-Nya, Nabi-nabi-Nya, para malaikat-Nya, Hari Akhir, serta Qadha dan Qadar-Nya.

-M. Ikhlas ; www.republika.co.id
-www.hudzaifah.org
-Ustaz Syed Hasan Alatas ;www.shiar-islam.com

KISAH

Di tengah perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah SAW melihat banyak peristiwa. Rasulullah SAW melihat orang menebar benih sehari dan panen dalam sehari. Setiap selesai memanen, mereka tumbuh lagi seperti sebelumnya. Jibril menjelaskan : "Itulah Al-Mujahidun, amal mereka berlipat 700kali, dan apa yang mereka keluarkan berlipat ganda".
Rasulullah SAW kemudian mencium angin sangat wangi. Jibril menjelaskanbahwa itu adalah bau dari perempuan (pelayan) yang menysir rambut anak fir'aun, dan ketika sisirnya jatuh dia mengatakan "Dengan nama Allah, hancurlah Fir'aun"... dst cerita dianiayanya pelayan dan keluarganya.
Kemudian dia melihat beberapa orang yang memotong kepala mereka sendiri, dan setiap kali kepala itu kembali semula dan dipotong lagi. "Itulah orang yang kepalanya terlalu berat (kepada bantal mereka) untuk bangun dan menjalankan shalat" (na'dzubillahi min dzalik..)
Kemudian Beliau SAW melihat seorang yang menggunakan cawat, mereka memakan buah berduri, zaqqum (buah yang tumbuh di neraka), bara api putih dan kerikil neraka. "Mereka adalah orang yang tidak melaksanakan zakat/sadaqah.
Kemudian Beliau SAW melihat orang yang tersedia di depannya daging yang baik/segar dan daging busuk, namun dia memilih daging busuk. "Mereka adalah orang yang memiliki istri/suami yang baik dan halal di rumah, tetapi pergi bermalam ke perempuan/laki2 jelek dan haram".
Kemudian Beliau SAW melihat orang yang berenang di sungai darah dan di mulutnya penuh dengan batu dan menelannya. "Mereka adalah orang yang memakan riba".
Kemudian Beliau SAW melihat seorang yang mengumpulkan setumpuk kayu yang dia tidak sanggup membawa, namun dia menambahnya. "Itu adalah orang yang mendapat kepercayaan orang/masyarakat yang dia tidak mampu, namun berkeras untuk melakukannya"
Kemudian Beliau SAW melihat seorang yang mulut dan lidahnya diiris dengan pisau. Setiap terpotong kembali ke bentuk asal dan dipotong lagi. "Itulah para penyeru, mereka mengatakan apa yang mereka tidak lakukan".
Kemudian Beliau SAW melihat seorang yang memiliki kuku tembaga dengannya mereka mencakar wajah dan dadanya. "Itulah orang yang memahan daging orang (memfitnah) dan menghancurkan reputasi orang"
Kemudian Beliau SAW melihat lobang kecil keluar darinya lembu besar, lembu itu berusaha masuk lobang itu dan tidak bisa. "Itulah mereka mengatakan kejelekan, dan dia menyesal mengatakan itu, namun tidak bisa kembali"
Kemudian mereka datang ke suatu lembah yang udaranya sejuk, baunya wangi dan dia mendengar nyanyian indah. (Nyanyiannya panjang). "Itulah nyanyian sorga".
Kemudian mereka datang ke suatu lembah yang udaranya busuk dan dia mendengar nyanyian menyakitkan.(Nyanyiannya panjang) "Itula nyanyian neraka".
Kemudian beliau melihat Dajjal dalam rupa asli.
Kemudian beliau melihat pilar seperti perak yang dibawa malaikat. "Itulah pilar Islam, sedang diletakkan di Syam".

-abuafkar.multiply.com


TIPS

Hasil dari Isra' dan Mi'raj Nabi s.a.w. yang terbesar sekali ialah menerima tugas perintah dari Allah s.w.t.menunaikan ibadah sholat. Banyak arahan melakukan ibadah lainnya diterima melalui wahyu yang diturunkan Allah s.w.t. Ibadah sholat diterima langsung daripada Allah s.w.t. ini menunjukkan keistimewaan sholat. Untuk itu kita harus berusaha untuk sholat yang benar dan khusyuk.Berikut beberapa persiapan sebelum shalat yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan shalat khusyuk:

1.Persiapan fisik.
Siapkan fisik sebaik mungkin. Misalnya, tidak dalam keadaan lapar dan mengantuk. Lapar dapat mengganggu konsentrasi seseorang ketika shalat. Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Malik, Abu Daud, dan Tirmidzi menegaskan bahwa orang yang shalat dalam keadaan mengantuk tentu tidak menyadari apa yang dibacanya. Upayakan pula agar tidak dalam menahan kentut, kencing, ataupun buang air besar, sebagaimana dikatakan Aisyah ra yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak ada shalat (khusyuk) ketika makanan terhidang dan tidak ada shalat khusyuk ketika terganggu oleh dua orang yang kotor (maksudnya menahan sesuatu yang akan keluar dari dua pembuangan tersebut).’”

2. Persiapan akal dan qolbu.
Pelajari dan pahami bacaan-bacaan shalat dengan mentadaburinya (meresapi ke dalam hati sehingga melahirkan konsentrasi serta pemahaman yang dalam). Kekhusyukan sulit terjadi jika kita tidak memahami arti dari bacaan-bacan tersebut.

3. Persiapan tempat.
Siapkan tempat shalat yang bersih dari kotoran-kotoran dan najis. Upayakan pula agar tempat shalat tidak panas dan berisik sebab hal-hal seperti ini akan mempengaruhi konsentrasi kita ketika shalat. Suasana yang ramai masih bisa diatasi apabila kita melakukan shalat dengan penuh konsentasi (memusatkan perhatian semaksimal mungkin kepada bacaan shalat sehingga pengulangan bacaan tidak perlu terjadi). Selain itu, upayakan agar tidak tergesa-gesa dalam membaca bacaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Adalah Beliau (Rasulullah SAW) biasa membaca ayat-ayatNya sepenggal-sepenggal: Bismillaahir-rahmaanir-rahiim (berhenti), Al-hamdu lillaahi Rabbil ‘Aalamiin (berhenti), Ar-rahmaanir-rahiim (berhenti), Maaliki yaumid-diin (berhenti), dan seterusnya.” (H.R. Daru Quthni).

-tahajudcallmq.wordpress.com
-www.shiar-islam.com


PROFIL USTADZAH

"USTADZAH MAHWATI"

Ibu dari 4 orang putra dan putri ini selain menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, beliau juga seorang aktivis di bidang pendidikan anak usia dini. Ada lagi kesibukan yang tak kalah pentingnya, yaitu mengelola majelis taklim di wilayah RT 008/02 Ulujami. Pengajian yang diselenggarakan setiap hari kamis malam itu biasanya dihadiri sekitar 60 orang. Sedang setiap hari Selasa, khusus untuk belajar Al Qur’an. Kedua kegiatan tersebut sudah berlangsung sekitar 7 tahun dan alhamdulillah masih dapat bertahan hingga kini. Untuk menambah wawasan sekaligus untuk penyegaran, maka setiap tahun, majelis taklim yang dipimpin Ustadzah Mahwati ini mengadakan acara wisata ruhani, misalnya mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang bernuansa religi atau bertafakur alam mengagumi kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya yang indah.

Ustadzah yang lahir di Jakarta pada 14 Juli 1968 ini juga aktif mengajar di Taman Kanak-Kanak di wilayah RW 02 Ulujami. Bertempat tinggal di Jalan Kampung Baru II RT 008/02 No. 39 Ulujami Pesanggrahan. Ustadzah yang mempunyai hobby olah raga bola volley dan bulu tangkis ini ternyata sangat suka belajar untuk menambah ilmu. Beliau sekarang tercatat sebagai mahasiswi Unindra PGRI Jakarta, mengambil program Bimbingan dan Konseling. Semoga ilmu yang didapat semakin berkah, karena Ustadzah Mahwati selain gemar belajar beliau juga aktif mengajar majelis taklim dan taman kanak-kanak. Hal ini seiring sejalan dengan motto hidup beliau yaitu hidup untuk ibadah. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari profil yang ditampilkan Bulletin Yasmin kali ini. Seorang ustadzah yang begitu giat menuntut ilmu dan giat membagi ilmunya bagi sesama. Semoga Allah mengaruniakan rahmat dan hidayah-Nya, semoga Ustadzah Mahwati senantiasa diberi Allah kesehatan dan keistiqomahan untuk senantiasa berjuang di jalan Allah. Amin.

REDAKSI