Rabu, 25 Juni 2008

YASMIN 9

Buletin Yasmin Edisi 9 Tahun II Rajab 1429 H

KELUARGA SAKINAH

DARI REDAKSI

Assalamu’alaikum wr wb
Apa kabar Pembaca? Semoga kabar baik selalu menyertai Anda. Pada edisi ini, kami akan membahas tentang keluarga sakinah. Seperti kita ketahui, rumah tangga sebagai pondasi dalam membangun kejayaan umat, memperoleh perhatian besar dalam Islam melalui syariatnya yang hanif. Maka, ia terangkan hukum-hukum dan adab-adab yang sering terjadi pada rumah tangga. Pun perjalanan rumah tangga Rasulullah saw dan para sahabatnya serta rumah tangga para nabi-nabi terdahulu menjadi contoh yang baik bagi kita dalam membina keluarga. Bersamaan itu, muncul rasa keprihatinan terhadap banyak rumah tangga yang memang tidak berpondasi kokoh pada mulanya. Sehingga memudahkan musuh-musuh Islam memporakporandakan kesatuan dan persatuan kaum muslimin.

Pada rubrik profil, kami tampilkan Ustadzah Maah Marlina. Semoga kisah para Ustadzah yang kami tampilkan di rubrik ini dapat menjadi inspirasi bagi Pembaca. Selain itu kami tampilkan juga kisah keluarga Nabi Ibrahim dan tips memotivasi anggota keluarga dalam rangka membentuk keluarga sakinah. Semoga Allah swt memudahkan langkah kita dalam menggapai ridho-Nya. Amin.

Wassalamu’alaikum wr wb

KAJIAN UTAMA

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan anak kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS Al Furqan : 7)

Setiap kita mendambakan terwujudnya keluarga bahagia. Rumah sebagai tempat bernaung menjadi tempat yang nyaman dan aman. Nyaman karena masing-masing Anggota keluarga mengerti posisinya, menjalankan kewajiban dan mendapatkan haknya. Semangat beribadah menjadi spirit keluarga, kasih sayang antar anggota menjadi irama suasana keluarga. Kenyamanan yang tercipta membuahkan rasa aman dalam rumah tangga, aman di dunia dan aman di akhirat.

Dalam membentuk keluarga muslim yang berbahagia, landasan rumah tangga adalah ibadah sesuai dengan tujuan kita diciptakan oleh Allah di dunia ini

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Sebagai buktinya, kita harus menjalankankan nilai-nilai Islam secara menyeluruh dalam keluarga, seperti firman Allah dalam Al Qur'an,"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan nya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS.Al-Baqarah: 208).

Untuk itu dibutuhkan nahkoda yang mampu menjadi teladan yang nyata, agar anggota keluarga mudah diarahkan ke tujuan hidup, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Hidupkan suasana saling tolong –menolong agar tugas-tugas yang ada terasa ringan dalam pelaksanaan “…..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran….” (QS. Al-Maidah: 2).

Lalu bahu-membahu untuk menjauhkan hal-hal yang tidak sesuai syari’at dari kehidupan keluarga, agar selamat di dunia dan akhirat. “Hai orang-orang yang beriman , peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6).

Maka dari itu, kita harus menyiapkan diri secara matang sebelum membentuk kehidupan berumah tangga. Persiapan rohani dan jasmani, materi dan immateri. Bekali diri dengan pengetahuan terutama yang berkaitan dengan langkah yang benar dalam membentuk keluarga bahagia. Pilihlah calon suami atau istri yang taat dalam beragama dan sehat secara biologis. Diperlukan sosok suami yang bertanggung jawab dalam mencukupi kebutuhan materi keluarga, dan juga istri yang mampu mengatur keuangan yang ada dengan sebaik-baiknya. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi….”(QS Al-Qashash: 77)

Betapa indahnya kalau kita hidup dalam keluarga seperti itu, betapa bahagianya kalau kita mampu menciptakan suasana rumah tangga yang sakinah (tenang suasananya), mawaddah (saling mencintai), warahmah (saling mengasihi). Meskipun mewujudkan hal itu tidak mudah, tetapi kita harus berjuang untuk mewujudkannya. Kita harus bekerja sama melawan berbagai rintangan yang bisa menghambat terciptanya keluarga yang bahagia. Keluarga muslim adalah keluarga yang paling berbahagia, karena kebahagiaan tidak hanya di dunia, tetapi berlanjut sampai ke akhirat.

Sumber : Majalah Al-Iman bil Ghoib, Edisi 86 Th.4

FIQH

Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Keluarga

1. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya, Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari dirimu sendiri agar kamu cenderung (tentram dan tenang) dengan mereka, lalu Allah menjadikan diantara kamu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”( Ar-Rum: 32)

2.”Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak “ (An-Nisa :19)

3. “ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. “(Al-Baqarah: 228)

4. “Istri-istri kamu adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)

5. “Hai orang-orang yang beriman , peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…..”(At-Tahrim: 6)

6. “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhan kami perkenankanlah do’aku .”(Ibrahim: 40)

7. “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut , ketika ia berkata kepada anak-anaknya ; “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

KISAH

KELUARGA NABI IBRAHIM

Allah swt telah menjadikan keluarga Nabi Ibrahim as (alaihis salam, baginya kesejahteraan) sebagai salah satu keluarga teladan terbaik yang pernah hadir di tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing) (QS. 3:33). Nabi Ibrahim dikenal sebagai seorang yang amat lembut hatinya dan menghiba pada saat bermunajat dan berdoa kepada Rabb-nya. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. (QS. 11:75).

Dan diantara doa Nabi Ibrahim kepada Allah swt adalah:
Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan do'aku. (QS. 14:40)

Doa agar keluarganya senantiasa menjadi penegak sholat ini beliau panjatkan seiring dengan ujian berat berupa perintah Allah untuk meninggalkan istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail yang masih bayi, yang ia telah nanti-nantikan kehadiran berpuluh tahun, di sebuah tanah gersang yang terpencil ...

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. 14:37)

Allah swt memberi beliau ilham bahwa dibalik ujian berat ini ada hikmah besar, yaitu agar anak-cucu keturunannya mendirikan sholat. Dan pernyataan akan pendirian sholat ini mendahului permohonan Ibrahim akan rejeki kebaikan manusia dan rejeki buah-buahan bagi keluarganya. Sebab pada sholatlah hati yang khusyu menghadap langsung kepada Allah swt. Dan ketika hubungan seorang manusia dengan Allah swt baik, maka akan melimpahlah segala kebaikan kepadanya dari berbagai jalan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan Dia tak akan pernah menyia-nyiakan amal kebajikan hamba-hambaNya.

Tahun berganti tahun, tanah tandus pun mulai menghijau dengan karunia mata air yang melimpah airnya. Tanah yang sepi dan gersang pun mulai dikunjungi orang-orang dan bahkan menjadi pusat keramaian. Allah swt selalu menepati janjiNya dan selalu menyayangi hamba-hambaNya yang senantisa memenuhi perintahNya, seperti kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan (Ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia" Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS. 2:124)

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku', dan yang sujud. (QS. 2:125)

Sumber : http://adijm.multiply.com

TIPS

Kiat memotivasi anggota keluarga dalam rangka membentuk keluarga sakinah :

1. Ikhlas
“Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS.Al-Hijr 39-40)

2. Iman yang lurus dan tawakkal
“Sesungguhnya syetan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersetukannya dengan Allah.” (QS.An-Nahl: 99-100)

3. Selalu waspada
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu). Karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

4. Komitmen dengan ajaran Islam
Ibnu Mas’ud berkata, “Suatu hari Rasulullah menggaris lurus di tanah, lalu beliau membuat garis-garis lain di kanan dan kirinya. Lalu beliau bersabda, “yang ini (garis lurus) adalah jaln Allah. Sedangkan yang lainnya (garis kanan kirinya) adalah jalan dimana syetan mengajak kalian kepadanya. Lalu beliau membaca ayat 153 dari surat Al-An’am.” (HR. Abu Daud, Ahmad dan Hakim)

5. Banyak berdzikir
Rasulullah bersabda, “….Dan aku perintahkan kalian untuk berdzikir kepada Allah yang banyak. Perumpamaan orang yang banyak dzikir itu seperti orang yang di cari-cari atau dikejar-kejar oleh musuh. Lalu ia mendapatkan benteng kokoh yang bisa melindungi dirinya dari kejaran musuh tersebut. Begitulah seorang hamba, dia tidak akan selamat dari gangguan syetan kecuali dengan berdzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadist hasan shahih).

6. Istighfar dan bertaubat
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya syetan telah berkata , ‘Demi kemuliaan-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh masih ada dalam badan mereka (masih hidup),’Maka Allah menimpalinya ,”Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampun (beristighfar) kepada-Ku (HR. Ahmad, Al-Hakim, Thabrani dan Abu Ya’la).

7. Bergabung dalam komunitas muslim (berjamaah)
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan kenikmatan surga, maka hendaklah ia senantiasa hidup berjamaah. Karena syetan itu bersama dengan orang-orang yang suka sendirian. Ia akan semakin jauh bila orang tersebut berdua.” (HR.Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadist hasan shahih)

PROFIL

USTADZAH MAAH MARLINA

Ustadzah yang lahir di Sumedang, pada tanggal 12 Mei 1955 ini sudah lama berkecimpung dalam dunia dakwah. Meski pendidikan formal beliau hanya sampai Madrasah Tsanawiyah, tak menyurutkan langkah ibu yang tinggal di Jl. Subur RT 15/01 Pesanggrahan ini untuk terus menuntut ilmu dan berdakwah. Kegiatan ibu 3 orang putra ini, selain sibuk membina Majelis Ta’lim Rhoudhotul Mutafaizin (yang kini berganti nama menjadi Ar Royyan), juga aktif berkegiatan di lingkungan beliau, misalnya Arisan RT, pengajian RW, Pengajian Kelurahan dan lain-lain.

Semangat beliau yang tinggi dalam berdakwah dan menuntut ilmu, membuat beliau diangkat sebagai penyuluh di KUA Pesanggrahan. Di tengah aktivitas yang cukup padat itu, Ibu Maah masih sempat membantu suami mencari nafkah dengan berjualan nasi uduk, lontong sayur dan gorengan. Sedang suami beliau pekerjaannya adalah sebagai sopir derek, jadi kalau ada mobil yang mogok baru mendapat order. Beliau kini juga merawat dua orang cucunya yang sudah tidak mempunyai ibu karena ibunya sudah meninggal dunia. Di tengah himpitan hidup, Ibu Maah tetap tegar dan semangat menjalani kehidupan, melebur dalam dunia dakwah. Semoga Allah senantiasa memberi kesabaran dan keimanan kepada kita, untuk senantiasa istiqomah di jalan dakwah. Semoga kisah perjalanan hidup Ibu Ustadzah Maah dapat kita ambil hikmahnya.

(Sumber : Zubaidah)

Tidak ada komentar: