YASMIN
Menuju Muslimah Taqwa, Cerdas dan Terampil
___________________________________________
Edisi 08/Tahun III
1 Juli 2009/ 10 Sya’ban 1430 H
ADAB BERGAUL AGAR DICINTAI ALLAH DAN MANUSIA
"Sesungguhnya di sekitar Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya, dan di atas mimbar-mimbar tersebut terdapat orang-orang di mana pakaian mereka adalah cahaya, dan wajah mereka adalah cahaya. Mereka bukan nabi, dan bukan pula syuhada'. Para nabi, dan syuhada' iri kepada mereka." Ditanyakan kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka kepada kita." Rasulullah saw. bersabda, "Mereka saling mencintai karena Allah, saling duduk karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah." (Diriwayatkan An-Nasai. Hadits ini shahih).
DARI REDAKSI
Assalamu’alaikum wr wb
Cita-cita tertinggi seorang muslim ialah agar dirinya dicintai Allah dan menjadi orang bertakwa. Itu semua dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Karena itu manusia senantiasa harus menjaga hubungannya dengan Allah (habluminalloh) dan dengan manusia (habluminnanas). Islam sebagai agama mulia, telah memberikan tuntunan tentang adab bergaul. Dengan mempraktekkan adab yang baik dalam bergaul, maka kita akan dapat memperoleh manfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat di antara umat Islam. Ukhuwah yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Bila adab bergaul tidak dipraktekkan dengan baik di antara sesama manusia, maka akan banyak terjadi kerenggangan, bahkan permusuhan. Bahkan, dakwah yang haq bisa dijauhi oleh manusia, jika tidak dibarengi dengan akhlak yang baik. Oleh karena itu, adab bergaul sangat perlu dipelajari dan diamalkan.
Dalam Yasmin edisi ini, kami akan membahas tentang adab bergaul dalam Islam, apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang seharusnya ditinggalkan. Tentunya semua itu hanya dalam rangka beribadah pada Allah dan untuk mencari ridho-Nya semata. Semoga bermanfaat.
Wasslam’alaikum wr wb
TOPIK UTAMA
Di antara tanda-tanda seseorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai oleh orang-orang shalih, diterima di hati mereka. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya, jika Allah mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata, "Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia." Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit, "Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia." Maka mereka (penduduk langit) mencintainya. Kemudian, ia menjadi orang yang diterima di muka bumi." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim)
Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Beliau adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman, "Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung." (Al-Qalam : 4)
Kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya, "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik bagi kalian." (Al-Ahzab : 21)
Diantara adab bergaul yang sebaiknya kita lakukan adalah sebagai berikut :
1. Hormati perasaan orang lain, tidak menghina atau menyakiti baik dengan perkataan dan perbuatan. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya. Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka diberi hak dan dihargai.
2. Bersikap rendah hati dan tidak tamak terhadap apa-apa yang dimiliki orang lain. Rasulullah saw. Bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu.”(HR Ibnu Majah). Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan meminta apa yang engkau butuhkan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau meneteskan air mata.
3. Tidak melakukan maksiat dan meremehkan ketaatan. Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa dzikir dan ibadah, saling menasehati, mengingatkan dan memberi pelajaran, berarti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan hal itu bisa mengakibatkan terbukannya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah saw. Bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak mendzoliminya dan tidak menghinakannya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya karena satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya.”(HR Ahmad). Ibnu Qayim, dalam kitab “Al-Jawabul Kafi” mengatakan, “Di antara akibat dari perbuatan maksiyat adalah rasa gelisah (takut dan sedih) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiyat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya.” Orang-orang ahli maksiyat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar materi sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan hal itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat. Allah swt berfirman, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(Az-Zukhruf: 67). Sedangkan persahabatan karena Allah, akan terus berlanjut sampai di surga, “…sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”(Al-Hijr: 47).
4. Menggunakan adab yang baik ketika berbicara, bermuka manis dan tersenyum ketika berjumpa. Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'hendaklah mereka mengucapkan kata-kata yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia'.”(Al-Isra: 53). Dalam sebuah hadis Nabi saw. Bersabda, “Kalimah thayibah adalah shadaqah.”(HR Bukhari). Memperhatikan apabila ada yang mengajak berbicara dan tidak memalingkan muka darinya. Seorang ulama salaf berkata, “Ada seseorang yang menyampaikan hadis sedangkan aku sudah mengetahui hal itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara.”
5. Bercanda dan bersenda gurau secukupnya. Berapa banyak orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.
6. Menghindri berdebat, berbantah-bantahan dan memaafkan kesalahan mereka. Terkadang hubungan persaudaraan terputus karena terjadinya perdebatan yang sengit yang bisa jadi itu adalah tipuan setan. Dengan alasan mempertahankan akidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah saw. Bersabda, “Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya.”(HR Bukhari dan Muslim). Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka menggelar perdebatan, adu argumen dan pendapat. Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang bodoh, dan kepada ahli bidah, hal itu tidak masalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka hal itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, hal itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan. Jadi, bisa saja dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.
7. Tidak berbisik-bisik (pembicaraan rahasia) di depan orang lain. Berbisik-bisik adalah merupakan hal yang sepele tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan. Allah swt. Berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman berduka cita….”(Al-Mujadalah: 10) Rasulullah bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga karena itu akan bisa menyebabkannya bersedih.”(HR Bukhari dan Muslim). Para ulama berkata, “Setan akan membisikkan kepadanya dan berkata, 'Mereka itu membicarakanmu'.” Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta idzin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik (berbicara rahasia).
8. Jika saudaranya sakit maka ia menjenguknya, jika saudaranya mengalami kesulitan maka ia membantu meringankannya, jika saudaranya lupa maka ia mengingatkannya, menyambutnya dengan hangat jika saudaranya mendekat, memberi tempat yang luas jika saudaranya ingin duduk, dan mendengarkan dengan senius jika saudaranya berbicara.
9. Menjaga lisan dengan tidak membeberkan aib saudaranya baik sepengetahuan maupun tanpa sepengetahuannya, tidak membongkar rahasianya, dan tidak berusaha mengetahui rahasia-rahasia diri saudaranya. Jika ia melihat saudaranya di salah satu jalan untuk satu kebutuhan, maka ia tidak menyuruhnya menyebutkan kebutuhannya tersebut, dan tidak berusaha mengetahui sumbernya. Ia menyuruhnya kepada kebaikan dengan lemah-lembut, melarangnya dari kemungkaran dengan lemah-lembut, tidak membantah ucapannya, tidak mendebatnya dengan kebenaran atau kebatilan, tidak mengecamnya dalam satu urusan pun, dan tidak menyalahkan perbuatannya.
10. Memberi sesuatu yang dicintai saudaranya dan lisannya dengan memanggilnya dengan nama yang paling ia sukai, menyebutkan kebaikannya tanpa sepengetahuannya atau di depannya, menyampaikan pujian orang kepadanya sebagai bentuk keiriannya kepadanya dan kebahagiaannya dengannya, tidak menasihati berjam-jam hingga membuatnya gerah, dan tidak menasihati di depan umum karena hal mi mencemarkan nama baiknya. Imam Syafi'i Rahimahullah berkata, "Barangsiapa menasihati saudaranya secara rahasia, sungguh ia telah menasihatinya dengan baik, dan menghiasinya. Dan barangsiapa menasihati saudaranya dengan terang-terangan, sungguh ia telah mencemarkan nama baiknya."
11. Memaafkan kesalahannya, tidak mengambil pusing dengan kekeliruan-kekeliruannya, menutup aib-aibnya, berbaik sangka kepadanya, jika saudaranya berbuat maksiat dengan diam-diam atau terang terangan maka ia tidak memutus persaudaraan dengannya, tidak membatalkan persaudaraannya, namun ia tetap menunggu taubatnya. Jika saudaranya tetap bertahan berbuat maksiat, ia boleh memutus persaudaraan dengannya, atau tetap mempertahankan persaudaraan dengannya dengan memberikan nasihat kepadanya, dan terus mengingatkannya dengan harapan saudaranya bertaubat, kemudian Allah Ta‘ala menerima taubatnya. Abu Ad-Darda' ra berkata, "Jika saudaramu berubah, maka engkau jangan meninggalkannya karena hal tersebut, karena saudaramu itu terkadang menyimpang, namun pada kesempatan lain ia berada di atas jalan yang lurus."
12. Memenuhi hak ukhuwwah (persaudaraan) dengan menguatkannya dan mempertahankan perjanjiannya, karena memutus ukhuwwah itu membatalkan pahala ukhuwwah. Jika ia meninggal dunia, ia mentransfer hubungan ukhuwwah ini kepada anak-anaknya, dan sahabat-sahabat yang setia kepadanya untuk menjaga ukhuwwah, dan setia kepada saudaranya. Rasulullah saw. memuliakan wanita tua, kemudian beliau ditanya tentang sikapnya tersebut, maka beliau bersabda, "Sesungguhnya wanita tua ini dulu sering datang kepada kami semasa Khadijah masih hidup, dan sesungguhnya memuliakan janji adalah bagian dan agama." (Diriwayatkan Al-Hakim dan ia men-shahih-kan hadits ini). Di antara bentuk kesetiaan kepada ukhuwwah ialah ia tidak boleh bersahabat dengan musuh saudaranya, karena Imam Syafi'i Rahimahullah berkata, "Jika temanmu mentaati musuhmu, maka keduanya terlibat dalam permusuhan denganmu."
13. Tidak menyuruh saudaranya dengan sesuatu yang tidak mampu ia kerjakan, dan tidak ia senangi. Ia tidak boleh bergantung dengan harta atau jabatan saudaranya, dan tidak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan, karena asas ukhuwwah ialah karena Allah Ta‘ala. Oleh karena itu, ukhuwwah ini tidak boleh diubah kepada selain Allah, misalnya untuk menarik rnanfaat dunia, atau menolak madharat dunia. Disebutkan dalam atsar, "Aku, dan orang-orang bertakwa dan umat berlepas diri dari pembebanan yang tidak proporsional."
14. Mendoakan saudaranya, anak-anaknya, dan apa saja yang terkait dengannya sebagaimana ia senang mendoakan dirinya, anak-anak kandungnya, dan apa saja yang terkait dengannya, sebab seseorang tidak berbeda dengan saudaranya karena persaudaran telah menyatukan keduanya. Oleb karena itu, ia harus mendoakan saudaranya baik dalam keadaan hidup, atau mati, atau tidak ada di tempat, atau berada di tempat. Rasulullah saw. bersabda, "Jika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka malaikat berkata, ‘Engkau juga mendapatkannya'." (HR Muslim).
KISAH
Ada sepenggal kisah menarik saat Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah yang diriwayatkan Anas bin Malik.
''Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya,'' ujar Sa'ad bin Rabi, penduduk Madinah atau kaum Anshar, kepada Abdurrahman bin 'Auf, seorang Muhajirin. Sa'ad tak bermaksud pamer dan sombong, tapi hendak meyakinkan sahabatnya itu agar mau menerima tawarannya.
''Silakan pilih separuh hartaku dan ambillah!'' tegas Saad. Tidak hanya itu, Saad menambah penawarannya. ''Aku pun mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatianmu, maka akan kuceraikan ia, hingga engkau dapat memperistrinya.''
Namun, Abdurrahman menolak halus tawaran tulus nan menggiurkan tersebut. Malah ia minta ditunjukkan letak pasar. Ia menolak ikan, tapi mau kail agar bisa memancing sendiri.
''Semoga Allah memberkati engkau, istri, dan harta benda milikmu. Tunjukkanlah letak pasar, agar aku dapat berniaga.''
Hingga pada akhirnya, Abdurrahman bin 'Auf yang miskin akibat meninggalkan semua harta bendanya di Makkah demi perjalanan hijrah ini, menjadi seorang saudagar. Ia menjadi kaya raya kembali dengan perniagaan yang dikelolanya secara profesional, amanah, dan jujur.
Keindahan ukhuwah Islamiyah kaum Muslimin generasi awal itu, harus bisa kita terapkan kembali. Sebuah jalinan ukhuwah yang bisa menciptakan integrasi umat Islam yang sangat kokoh dan akan membawa Islam mencapai kejayaan dan mengembangkan sayapnya ke berbagai penjuru bumi serta disegani oleh musuh-musuhnya.
Terlebih saat ini, banyak saudara-saudara kita membutuhkan bantuan uluran tangan akibat banjir, longsor, dan musibah lainnya. Bila Sa'ad bersedia berbagi -bahkan rela memberikan apa yang dicintainya- untuk saudara Muslimnya, kenapa kita tidak?
FIQH
Adab Bergaul
1. Berkata yang baik dan mau memaafkan orang lain. Allah berfirman, ” Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih disukai Allah daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS Al Baqarah : 263)
2. Tidak menyakiti hati orang lain, tidak menyebut-nyebut pemberian yang telah diberikan. Allah berfirman, ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima).... ” (QS Al Baqarah : 264)
3. Perhatikan perasaan orang lain dan hormatilah, jangan menghina atau memandang mereka cacat, mencela dan memanggil dengan julukan jelek . Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaummengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan)..... (QS 49 : 11)
4. Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman, ”yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS 3 : 134)
5. Menjaga diri dari perbuatan mendholimi orang lain. Allah berfirman, ”Sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat dholim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. ” (QS 42 : 42)
6. Saling mencintai. ”Rasulullah saw bersabda, ”Seorang di antara kalian tidak (dikatakan) beriman sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari Muslim)
7. Tersenyumlah ketika bertemu orang lain dan bersikap zuhud. ” Rasulullah saw bersabda, ”Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka mencintaimu.” (Hadist hasan diriwayatkan Ibnu Majah)
8. Jauhi dengki, menipu dan sikap menzholimi orang lain. ” Rasulullah saw bersabda, ”Janganlah kalian saling dengki, jangan salling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli sesuatu yang masih (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak layak untuk menzholiminya, berbohong padanya dan acuh padanya. Taqwa itu di sini (beliau sambil menunjuk dadanya tiga kali). Cukuplah kejahatan seseorang jika ia menghina saudara muslim lainnya. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya dan harga dirinya.” (HR Muslim)
9. Mendoakannya. "Jika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka malaikat berkata, ‘Engkau juga mendapatkannya'." (Diriwayatkan Muslim).
Kamis, 11 Juni 2009
Langganan:
Komentar (Atom)