Edisi 03 Tahun III/1 Februari 2009/6 Shafar 1430 H
ISLAM STANDAR KEBENARAN YANG TUNGGAL
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS 2 : 147)
DARI REDAKSI
Assalamu’alaikum wr wb
Pembaca yang dimuliakan Allah, apa kabar? Semoga semua selalu dalam kebaikan dan keberkahan-Nya. Perguliran hari demi hari tak terasa telah mengantarkan kita pada tahun yang baru ini. Tahun baru, semangat baru, itu yang kami harapkan. Pada kesempatan ini, kami mengulas tentang standar kebenaran yaitu Islam. Dengan tujuan supaya kita mempunyai standar dalam kehidupan ini yang jelas dan tidak rancu. Dengan demikian, kita bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah. Semoga Anda bisa menyimaknya dengan seksama. Teriring doa semoga kita selalu dalam perlindungan Allah dan mendapat kemudahan. Amin.
Wassalamu’alaikum wr wb
TOPIK UTAMA
Fenomena amat menyedihkan yang kita saksikan hari ini adalah, persepsi manusia yang makin kacau tentang standar kebenaran. Manusia saling berebut pengaruh dalam mencari pengakuan bahwa produk otak mereka bisa dijadikan takaran bagi nilai-nilai kehidupan. Mereka lupa bahwa manusia mempunyai segudang kekurangan sehingga amat mustahil bisa membuat aturan yang sempurna untuk mengatur kehidupan ini. Akibatnya memang amat memilukan, hidup mereka bagai merayap di alam kegelapan. Tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Manusia pun makin terperosok dalam jurang ketidakpastian cita-cita dan tujuan hidup.
Betapapun tingginya peradaban yang berhasil dibangun manusia, ia bukan jaminan bagi terciptanya perdamaian. Barat yang telah berhasil memacu teknologi begitu cepat, meninggalkan negara-negara dunia ketiga, nyatanya hari ini mengalami krisis ekonomi yang begitu luas sehingga memporak-porandakan segi-segi kehidupan. Timur pun yang selalu berkiblat ke barat tak mempunyai identitas diri sehingga mudah diombang-ambingkan oleh situasi dan kondisi. Kemajuan yang tidak bersandarkan pada nilai-nilai kebenaran yang mutlak (hukum Allah) akhirnya akan menggiring manusia pada jurang kehancuran yang mengerikan.
Tatkala penduduk dunia makin resah dengan berbagai krisis yang ada, maka Islam sebagai petunjuk hidup seluruh manusia adalah salah satu alternatif dalam menjawab semua permasalahan itu.
“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu serta pembeda antara yang haq dan yang bathil.” (QS 2 : 185)
Islam adalah sebuah kepastian, Al Qur’an yang merupakan sandaran utama dienul Islam, adalah sebuah kebenaran mutlak. Mustahil dari kesalahan, luput dari kekhilafan dan kekurangan. Karena ia berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna, Yang Maha Tahu, Maha Kuat dan Maha Benar yaitu Rabbul Izzati. Dia Penguasa Tunggal jagad raya, Pemelihara Sekalian Alam, Pemilik Kerajaan langit dan bumi. Karena itulah otoritas membuat aturan dan hukum tentang kegidupan hanya mutlak milik Allah saja.
”Membuat hukum hanyalah mutlak kepunyaan Allah. Dia memerintahkan kamu agar tidak menyembah kepada selain Dia. Itulah petunjuk hidup yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 12 : 40)
”Dan Dia-lah Tuhan yang sisembah di langit dan Tuhan yang disembah di bumi.” (QS 43 : 84).
Al Qur’an dengan begitu jelas dan rinci menerangkan hukum-hukum yang mengatur tata cara hidup manusia. Dijelaskan pula akibat-akibat dari ketaatan dan pembangkangan dari orang-orang terdahulu sebagai contoh dan pelajaran bagi kita orang-orang yang hidup kemudian.
Kebenaran dan tujuan diciptakannya manusia dipaparkan dengan jelas. Al Qur’an berisi keterangan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang dan tentang hal-hal yang ghoib.
Sebuah warisan suci dari kerajaan langit yang utuh dan menyeluruh, sempurna dan kekal sebagai standar kehidupan. Adalah layak jika seluruh manusia di dunia menjadikannya sebagai sumber hukum. Sehingga tidak layak kalau manusia masih mencari-cari yang lain.
“Atau siapakah yang menciptaka (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rizqi kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Alah ada Tuhan yang lain? Katakanlah : tunjukkan bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS 27 : 64)
FIQIH
Prinsip dasar tentang Islam dalam Al Qur’an
”Sesungguhnya dien yang diridhoi Allah hanyalah Islam.” (QS 3 : 19)
ISLAM STANDAR KEBENARAN YANG TUNGGAL
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS 2 : 147)
DARI REDAKSI
Assalamu’alaikum wr wb
Pembaca yang dimuliakan Allah, apa kabar? Semoga semua selalu dalam kebaikan dan keberkahan-Nya. Perguliran hari demi hari tak terasa telah mengantarkan kita pada tahun yang baru ini. Tahun baru, semangat baru, itu yang kami harapkan. Pada kesempatan ini, kami mengulas tentang standar kebenaran yaitu Islam. Dengan tujuan supaya kita mempunyai standar dalam kehidupan ini yang jelas dan tidak rancu. Dengan demikian, kita bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah. Semoga Anda bisa menyimaknya dengan seksama. Teriring doa semoga kita selalu dalam perlindungan Allah dan mendapat kemudahan. Amin.
Wassalamu’alaikum wr wb
TOPIK UTAMA
Fenomena amat menyedihkan yang kita saksikan hari ini adalah, persepsi manusia yang makin kacau tentang standar kebenaran. Manusia saling berebut pengaruh dalam mencari pengakuan bahwa produk otak mereka bisa dijadikan takaran bagi nilai-nilai kehidupan. Mereka lupa bahwa manusia mempunyai segudang kekurangan sehingga amat mustahil bisa membuat aturan yang sempurna untuk mengatur kehidupan ini. Akibatnya memang amat memilukan, hidup mereka bagai merayap di alam kegelapan. Tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Manusia pun makin terperosok dalam jurang ketidakpastian cita-cita dan tujuan hidup.
Betapapun tingginya peradaban yang berhasil dibangun manusia, ia bukan jaminan bagi terciptanya perdamaian. Barat yang telah berhasil memacu teknologi begitu cepat, meninggalkan negara-negara dunia ketiga, nyatanya hari ini mengalami krisis ekonomi yang begitu luas sehingga memporak-porandakan segi-segi kehidupan. Timur pun yang selalu berkiblat ke barat tak mempunyai identitas diri sehingga mudah diombang-ambingkan oleh situasi dan kondisi. Kemajuan yang tidak bersandarkan pada nilai-nilai kebenaran yang mutlak (hukum Allah) akhirnya akan menggiring manusia pada jurang kehancuran yang mengerikan.
Tatkala penduduk dunia makin resah dengan berbagai krisis yang ada, maka Islam sebagai petunjuk hidup seluruh manusia adalah salah satu alternatif dalam menjawab semua permasalahan itu.
“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu serta pembeda antara yang haq dan yang bathil.” (QS 2 : 185)
Islam adalah sebuah kepastian, Al Qur’an yang merupakan sandaran utama dienul Islam, adalah sebuah kebenaran mutlak. Mustahil dari kesalahan, luput dari kekhilafan dan kekurangan. Karena ia berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna, Yang Maha Tahu, Maha Kuat dan Maha Benar yaitu Rabbul Izzati. Dia Penguasa Tunggal jagad raya, Pemelihara Sekalian Alam, Pemilik Kerajaan langit dan bumi. Karena itulah otoritas membuat aturan dan hukum tentang kegidupan hanya mutlak milik Allah saja.
”Membuat hukum hanyalah mutlak kepunyaan Allah. Dia memerintahkan kamu agar tidak menyembah kepada selain Dia. Itulah petunjuk hidup yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 12 : 40)
”Dan Dia-lah Tuhan yang sisembah di langit dan Tuhan yang disembah di bumi.” (QS 43 : 84).
Al Qur’an dengan begitu jelas dan rinci menerangkan hukum-hukum yang mengatur tata cara hidup manusia. Dijelaskan pula akibat-akibat dari ketaatan dan pembangkangan dari orang-orang terdahulu sebagai contoh dan pelajaran bagi kita orang-orang yang hidup kemudian.
Kebenaran dan tujuan diciptakannya manusia dipaparkan dengan jelas. Al Qur’an berisi keterangan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang dan tentang hal-hal yang ghoib.
Sebuah warisan suci dari kerajaan langit yang utuh dan menyeluruh, sempurna dan kekal sebagai standar kehidupan. Adalah layak jika seluruh manusia di dunia menjadikannya sebagai sumber hukum. Sehingga tidak layak kalau manusia masih mencari-cari yang lain.
“Atau siapakah yang menciptaka (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rizqi kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Alah ada Tuhan yang lain? Katakanlah : tunjukkan bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS 27 : 64)
FIQIH
Prinsip dasar tentang Islam dalam Al Qur’an
”Sesungguhnya dien yang diridhoi Allah hanyalah Islam.” (QS 3 : 19)
”Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS 16 : 89)
”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh.” (QS 2 : 208)
”Apakah kalian akan beriman dengan sebagian Al Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tak ada balasan bagi yang berbuat demikian, kecuali kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan di hari kiamat mereka dilemparkan ke dalam azab yang amat berat.” (QS 2 : 85)
”Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah dan kalimat Allahlah yang tinggi.” (QS 9 : 40)
KISAH
ISLAMNYA SEORANG CAT STEVEN (YUSUF ISLAM)
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS :34)
Aku dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Tetapi karena aku dibesarkan sebagai orang Kristen, maka aku harus mencari jalanku kembali menuju Islam. Aku dibesarkan dalam dunia barat yang sangat materialistis.
Inilah zaman kita dewasa ini. Zaman yang kuanggap sangat baik jika dipandang dari itu semua. Ketika itu aku menganggap bahwa zaman ini sangat hebat dan spektakuler dalam kehidupan kita di mka bumi ini. Sebab kita sudah bisa menjelajahi sampai ke bulan. Jadi demikianlah dunia ini disajikan kepadaku, sehingga aku yakin bahwa manusia hanya akan mencapai puncak peradaban jika ia hidup secara ilmiah dan memiliki harta dan kekayaan yang berlimpah.
Maka aku menjadikan hal ini sebagai tujuan hidup. Akan halnya agamaku Kristen, aku tak memahaminya. Aku memang menyukai kisah-kisah yang ada di dalamnya mengenai Isa Al Masih. Tetapi karena agama ini tidak sempurna, bukan dien yang sesungguhnya, maka aku tidak bahagia. Maka akupun cenderung mengambil jalan sains, teknologi dan materialisme.
Aku tidak termasuk orang yang pandai sehingga tidak mungkin menjadi ilmuwan. Tapi aku melihat ada cara yang mudah untuk menghasilkan uang, yaitu dengan menggubah musik. Saat itu banyak sekali grup-grup musik dan penyanyi-penyanyinya. Aku memutuskan inilah jalanku, aku akan menjadi orang kaya dan bahagia.
Maka jadilah aku orang terkaya dan terkenal. Namun bersamaan dengan itu datanglah persoalan yang lainnya. Sebab itu semua persis tampil sebagaimana sebuah pagelaran. Kalau Anda melihat pagelaran dan Anda pergi ke belakang panggung, Anda akan melihat keadaan sesungguhnya di sana. Kondisi compang-camping, berantakan dan ketidakteraturan lainnya. Suatu keadaan yang berbeda sekali.
Setelah aku berhasil mencapai karir puncak sebagai penyanyi, akupun menyadari ini bukanlah yang sebenarnya aku cari dan aku idam-idamkan dalam hidupku. Mulailah aku mencari kembali makna hidupku. Kebetulan aku terserang suatu penyakit. Alhamdulillah, aku jadi punya waktu untuk merenung dan berfikir. Dan dalam perenunganku ada pertanyaan-pertanyaan penting yang sulit untuk mendapatkan jawabannya. Apa yang terjadi pada diriku setelah kematian? Apa sebenarnya tujuan hidup ini? Jika tujuannya materi, maka manusia sangat merugi. Perlombaan mengejar materi adalah perlombaan yang sia-sia.
”Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.” (QS 103 : 1 – 2)
Maka mulailah aku menjajagi beberapa agama. Akan tetapi aku menjumpai pada dasarnya agama-agama yang aku pelajari bukanlah agama yang sesungguhnya. Semua itu hanya sejenis filsafat. Sesungguhnya hal yang jauh dari sempurna jika dibandingkan dengan apa yang kita kenal dengan Al Islam.
Maka akupun melanjutkan pencarian. Pada tahun 1975, kakakku David, pergi ke Yerusalem dengan kunjungan sebagai turis. Ia ingin melihat tempat Isa Al Masih dilahirkan dan berharap menemukan pengalaman spiritual. Akan tetapi ia tak menemukan pengalaman spiritual itu. Di sana ia menemukan gereja-gereja tanpa ruh, bahkan ia melihat sendiri adanya korupsi dan perpecahan dalam gereja-gereja itu. Ia juga kecewa melihat tingkah orang-orang Yahudi di sana.
Ketika ia menengadah dan melihat ada sebuah masjid, ia bertanya pada dirinya sendiri, ”Apakah agama ini?” Kita tidak tahu apapun tentang agama ini! Memang ada sedikit berita tentang Islam, tapi belum mencukupi. Maka masuklah dia ke masjid dan merasakan sebuah ketenangan, tentram dan damai. Ia merasa gembira sekali. Akan tetapi ia harus segera keluar, karena dia bukanlah seorang muslim.
Kembalilah dia ke London. Kebetulan di sana ada festival kebudayaan Islam dan pameran buku-buku Islam. Datanglah ia ke sana dan menyaksikan pameran itu dengan penuh takjub. Kemudian dia melihat Al Qur’an. Ia berkata, ”Ah, ini buku orang muslim.” Ia kemudian membeli Al Qur’an itu dan kemudian menyimpannya. Al qur’an itu akhirnya dihadiahkan untukku, Alhamdulillah.
Sewaktu aku membaca Al Qur’an, aku sama sekali tak tahu apa itu Islam. Gambaran yang disajikan orang barat adalah sesuai yang disajikan pada mereka. Kebanyakan orang tidak peduli. Sebagian ada yang mengetahui tapi disembunyikan pada masyarakat. Pandanganku tentang Islam adalah seperti kebangsaaan. Tetapi ketika aku baca Al Qur’an, pesannya ditujukan pada seluruh manusia, di situlah aku baru tersentak dan fitrah kemanusiaanku mulai bangkit. Aku sudah banyak membaca buku, tapi belum pernah membaca sesuatu pun seperti Al Qur’an. Sebab ucapannya sama sekali berbeda. Maka akupun mulai menyadari, dan dengan seksama perlahan-lahan mulai mempelajarinya. Buku ini bukan karangan manusia dan akupun mulai mengerti tentang peranan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.
Demikianlah jalanku pada Islam. Setelah satu tahun atau lebih aku memeluk Islam, aku menyimpulkan bahwa hidup ini tak akan ada artinya kecuali jika kita mengikuti kebenaran. Dan kebenaran itu tidak lain adalah Islam (keselamatan). Setelah hatiku mulai terpanggil maka aku hanya ingin menjadi muslim. Dan pada tahun 1977 aku mengikrarkan diriku sebagai muslim dengan mengucap dua kalimat syahadat.
KISAH
ISLAMNYA SEORANG CAT STEVEN (YUSUF ISLAM)
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS :34)
Aku dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Tetapi karena aku dibesarkan sebagai orang Kristen, maka aku harus mencari jalanku kembali menuju Islam. Aku dibesarkan dalam dunia barat yang sangat materialistis.
Inilah zaman kita dewasa ini. Zaman yang kuanggap sangat baik jika dipandang dari itu semua. Ketika itu aku menganggap bahwa zaman ini sangat hebat dan spektakuler dalam kehidupan kita di mka bumi ini. Sebab kita sudah bisa menjelajahi sampai ke bulan. Jadi demikianlah dunia ini disajikan kepadaku, sehingga aku yakin bahwa manusia hanya akan mencapai puncak peradaban jika ia hidup secara ilmiah dan memiliki harta dan kekayaan yang berlimpah.
Maka aku menjadikan hal ini sebagai tujuan hidup. Akan halnya agamaku Kristen, aku tak memahaminya. Aku memang menyukai kisah-kisah yang ada di dalamnya mengenai Isa Al Masih. Tetapi karena agama ini tidak sempurna, bukan dien yang sesungguhnya, maka aku tidak bahagia. Maka akupun cenderung mengambil jalan sains, teknologi dan materialisme.
Aku tidak termasuk orang yang pandai sehingga tidak mungkin menjadi ilmuwan. Tapi aku melihat ada cara yang mudah untuk menghasilkan uang, yaitu dengan menggubah musik. Saat itu banyak sekali grup-grup musik dan penyanyi-penyanyinya. Aku memutuskan inilah jalanku, aku akan menjadi orang kaya dan bahagia.
Maka jadilah aku orang terkaya dan terkenal. Namun bersamaan dengan itu datanglah persoalan yang lainnya. Sebab itu semua persis tampil sebagaimana sebuah pagelaran. Kalau Anda melihat pagelaran dan Anda pergi ke belakang panggung, Anda akan melihat keadaan sesungguhnya di sana. Kondisi compang-camping, berantakan dan ketidakteraturan lainnya. Suatu keadaan yang berbeda sekali.
Setelah aku berhasil mencapai karir puncak sebagai penyanyi, akupun menyadari ini bukanlah yang sebenarnya aku cari dan aku idam-idamkan dalam hidupku. Mulailah aku mencari kembali makna hidupku. Kebetulan aku terserang suatu penyakit. Alhamdulillah, aku jadi punya waktu untuk merenung dan berfikir. Dan dalam perenunganku ada pertanyaan-pertanyaan penting yang sulit untuk mendapatkan jawabannya. Apa yang terjadi pada diriku setelah kematian? Apa sebenarnya tujuan hidup ini? Jika tujuannya materi, maka manusia sangat merugi. Perlombaan mengejar materi adalah perlombaan yang sia-sia.
”Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.” (QS 103 : 1 – 2)
Maka mulailah aku menjajagi beberapa agama. Akan tetapi aku menjumpai pada dasarnya agama-agama yang aku pelajari bukanlah agama yang sesungguhnya. Semua itu hanya sejenis filsafat. Sesungguhnya hal yang jauh dari sempurna jika dibandingkan dengan apa yang kita kenal dengan Al Islam.
Maka akupun melanjutkan pencarian. Pada tahun 1975, kakakku David, pergi ke Yerusalem dengan kunjungan sebagai turis. Ia ingin melihat tempat Isa Al Masih dilahirkan dan berharap menemukan pengalaman spiritual. Akan tetapi ia tak menemukan pengalaman spiritual itu. Di sana ia menemukan gereja-gereja tanpa ruh, bahkan ia melihat sendiri adanya korupsi dan perpecahan dalam gereja-gereja itu. Ia juga kecewa melihat tingkah orang-orang Yahudi di sana.
Ketika ia menengadah dan melihat ada sebuah masjid, ia bertanya pada dirinya sendiri, ”Apakah agama ini?” Kita tidak tahu apapun tentang agama ini! Memang ada sedikit berita tentang Islam, tapi belum mencukupi. Maka masuklah dia ke masjid dan merasakan sebuah ketenangan, tentram dan damai. Ia merasa gembira sekali. Akan tetapi ia harus segera keluar, karena dia bukanlah seorang muslim.
Kembalilah dia ke London. Kebetulan di sana ada festival kebudayaan Islam dan pameran buku-buku Islam. Datanglah ia ke sana dan menyaksikan pameran itu dengan penuh takjub. Kemudian dia melihat Al Qur’an. Ia berkata, ”Ah, ini buku orang muslim.” Ia kemudian membeli Al Qur’an itu dan kemudian menyimpannya. Al qur’an itu akhirnya dihadiahkan untukku, Alhamdulillah.
Sewaktu aku membaca Al Qur’an, aku sama sekali tak tahu apa itu Islam. Gambaran yang disajikan orang barat adalah sesuai yang disajikan pada mereka. Kebanyakan orang tidak peduli. Sebagian ada yang mengetahui tapi disembunyikan pada masyarakat. Pandanganku tentang Islam adalah seperti kebangsaaan. Tetapi ketika aku baca Al Qur’an, pesannya ditujukan pada seluruh manusia, di situlah aku baru tersentak dan fitrah kemanusiaanku mulai bangkit. Aku sudah banyak membaca buku, tapi belum pernah membaca sesuatu pun seperti Al Qur’an. Sebab ucapannya sama sekali berbeda. Maka akupun mulai menyadari, dan dengan seksama perlahan-lahan mulai mempelajarinya. Buku ini bukan karangan manusia dan akupun mulai mengerti tentang peranan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.
Demikianlah jalanku pada Islam. Setelah satu tahun atau lebih aku memeluk Islam, aku menyimpulkan bahwa hidup ini tak akan ada artinya kecuali jika kita mengikuti kebenaran. Dan kebenaran itu tidak lain adalah Islam (keselamatan). Setelah hatiku mulai terpanggil maka aku hanya ingin menjadi muslim. Dan pada tahun 1977 aku mengikrarkan diriku sebagai muslim dengan mengucap dua kalimat syahadat.