Kamis, 13 Agustus 2009

Malaikat Hafadhah dan 7 Tingkat Langit

Dari Ibnu Mubarak dan Khalid bin Ma’dan, mereka berkata kepada Mu’adz
bin Jabal, “Mohon ceritakan kepada kami sebuah hadits yang telah
Rasulullah ajarkan kepadamu, yang telah dihafal olehmu dan selalu
diingat-ingatnya karena sangat kerasnya hadits tersebut dan sangat
halus serta dalamnya makna ungkapannya. Hadits manakah yang engkau
anggap sebagai hadits terpenting?”

Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan aku ceritakan... “ Tiba-tiba Mu’adz
menangis tersedu-sedu. Lama sekali tangisannya itu, hingga beberapa
saat kemudian baru terdiam. Beliau kemudian berkata, ”Emh, sungguh
aku rindu sekali kepada Rasulullah. Ingin sekali aku bersua kembali
dengan beliau...”. Kemudian Mu’adz melanjutkan:

Suatu hari ketika aku menghadap Rasulullah Saw. yang suci, saat itu
beliau tengah menunggangi untanya. Nabi kemudian menyuruhku untuk
turut naik bersama beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta
tersebut di belakang beliau. Kemudian aku melihat Rasulullah
menengadah ke langit dan bersabda, ”Segala kesyukuran hanyalah
diperuntukkan bagi Allah yang telah menetapkan kepada setiap ciptaan-
Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Wahai Mu’adz....!

Labbaik, wahai penghulu para rasul....!

Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila engkau
menjaganya baik-baik, maka hal itu akan memberikan manfaat bagimu.
Namun sebaliknya, apabila engkau mengabaikannya, maka terputuslah
hujjahmu di sisi Allah Azza wa Jalla....!

Wahai Mu’adz...Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati dan Maha Tinggi
telah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan petala
langit dan bumi. Pada setiap langit terdapat satu malaikat penjaga
pintunya, dan menjadikan penjaga dari tiap pintu tersebut satu
malaikat yang kadarnya disesuaikan dengan keagungan dari tiap
tingkatan langitnya.

Suatu hari naiklah malaikat Hafadzah dengan amalan seorang hamba yang
amalan tersebut memancarkan cahaya dan bersinar bagaikan matahari.
Hingga sampailah amalan tersebut ke langit dunia (as-samaa’I d-dunya)
yaitu sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah kemudian
memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya.

Namun tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba malaikat
penjaga pintu tersebut berkata, ”Tamparlah wajah pemilik amal ini
dengan amalannya tersebut!! Aku adalah pemilik ghibah... Rabb
Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk mencegah setiap hamba yang
telah berbuat ghibah di antara manusia -membicarakan hal-hal yang
berkaitan dengan orang lain yang apabila orang itu mengetahuinya, dia
tidak suka mendengarnya- untuk dapat melewati pintu langit pertama
ini....!!”

Kemudian keesokan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit beserta
amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang
cahayanya terus diperbanyak oleh Hafadzah dan disucikannya, hingga
akhirnya dapat menembus ke langit kedua. Namun malaikat penjaga pintu
langit kedua tiba-tiba berkata, ”Berhenti kalian...! Tamparlah wajah
pemilik amal tersebut dengan amalannya itu! Sesungguhnya dia beramal
namun dibalik amalannya itu dia menginginkan penampilan duniawi
belaka (’aradla d-dunya).Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku
untuk tidak membiarkan amalan si hamba yang berbuat itu melewati
langit dua ini menuju langit berikutnya!” Mendengar itu semua, para
malaikat pun melaknati si hamba tersebut hingga petang harinya.

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba yang nampak
indah, yang di dalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya serta
perbuatan baiknya yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun memperbanyak
amal tersebut dan mensucikannya hingga akhirnya dapat menembus langit
pertama dan kedua. Namun ketika sampai di pintu langit ketiga, tiba-
tiba malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata, ”Berhentilah
kalian...! Tamparkanlah wajah pemilik amalan tersebut dengan amalan-
amalannya itu! Aku adalah penjaga al-Kibr (sifat takabur). Rabb
Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalannya
melewatiku, karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan
manusia ketika berkumpul dalam setiap majelis pertemuan mereka....”

Malaikat Hafadzah lainnya naik ke langit demi langit dengan membawa
amalan seorang hamba yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang
gemintang dan planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung
disebabkan oleh ibadah shaum, shalat, haji dan umrah, hingga tampak
menembus tiga langit
pertama dan sampai ke pintu langit keempat. Namun malaikat penjaga
pintu tersebut berkata, ”Berhentilah kalian...! Dan tamparkan dengan
amalan-amalan tersebut ke wajah pemiliknya.. ! Aku adalah malaikat
penjaga sifat ’ujub (takjub akan keadaan jiwanya sendiri). Rabb
Pemeliharaku memerintahkan kepadaku agar ridak membiarkan amalannya
melewatiku hingga menembus langit sesudahku. Dia selalu memasukkan
unsur ’ujub di dalam jiwanya ketika melakukan suatu perbuatan... !”

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan seorang hamba yang
diiring bagaikan iringan pengantin wanita menuju suaminya. Hingga
sampailah amalan tersebut menembus langit kelima dengan amalannya
yang baik berupa jihad, haji dan umrah. Amalan tersebut memiliki
cahaya bagaikan sinar matahari.
Namun sesampainya di pintu langit kelima tersebut, berkatalah sang
malaikat penjaga pintu, ”Saya adalah pemilik sifat hasad (dengki).
Dia telah berbuat dengki kepada manusia ketika mereka diberi karunia
oleh Allah. Dia marah terhadap apa-apa yang telah Allah ridlai dalam
ketetapan-Nya. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak
membiarkan amal tersebut melewatiku menunju langit berikutnya.. .!”

Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba berupa
wudhu’ yang sempurna, shalat yang banyak, shaum-shaumnya, haji dan
umrah, hingga sampailah ke langit yang keenam. Namun malaikat penjaga
pintu langit keenam berkata, ’Saya adalah pemilik ar-rahmat (kasih
sayang). Tamparkanlah amalan
si hamba tersebut ke wajah pemilikinya. Dia tidak memilki sifat
rahmaniah sama sekali di hadapan manusia. Dia malah merasa senang
ketika melihat musibah menimpa hamba lainnya. Rabb Pemeliharaku
memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku menuju
langit berikutnya.. .!’

Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang hamba berupa
nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara’ (berhati-
hati dalam beramal). Amalan tersebut bergemuruh bagaikan guntur dan
bersinar bagaikan bagaikan kilatan petir. Namun ketika sampai pada
langit yang ketujuh, berhentilah amalan tersebut di hadapan malaikat
penjaga pintunya. Malaikat itu berkata, ’Saya adalah pemilik sebutan
(adz-dzikru) atau sum’ah (mencintai kemasyhuran) di antara manusia.
Sesungguhnya pemilik amal ini
berbuat sesuatu karena menginginkan sebutan kebaikan amal
perbuatannya di dalam setiap pertemuan. Ingin disanjung di antara
kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara para pembesar.
Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalannya
menembus melewati pintu langit ini menuju langit sesudahnya. Dan
setiap amal yang tidak diperuntukkan bagi Allah ta’ala secara ikhlas,
maka dia telah berbuat riya’, dan Allah Azza wa Jalla tidak menerima
amalan seseorang yang diiringi dengan riya’ tersebut.... !’

Dan malaikat Hafadzah lainnya naik beserta amalan seorang hamba
berupa shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang
berbuahkan hasanah, berdiam diri, berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka
seluruh malaikat di tujuh langit tersebut beriringan menyertainya
hingga terputuslah seluruh hijab dalam menuju Allah Subhanahu. Mereka
berhenti di hadapan ar-Rabb yang Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya)
bertajalli. Dan para malaikat tersebut menyaksikan amal sang hamba
itu merupakan amal shalih yang diikhlaskannya hanya bagi Allah
Ta’ala.

Namun tanpa disangka Allah berfirman, ’Kalian adalah malaikat
Hafadzah yang menjaga amal-amal hamba-Ku, dan Aku adalah Sang
Pengawas, yang memiliki kemampuan dalam mengamati apa-apa yang ada di
dalam jiwanya. Sesungguhnya dengan amalannya itu, sebenarnya dia
tidak menginginkan Aku. Dia menginginkan selain Aku...! Dia tidak
mengikhlaskan amalannya bagi-Ku. Dan Aku Maha Mengetahui terhadap apa
yang dia inginkan dari amalannya tersebut. Laknatku bagi dia yang
telah menipu makhluk lainnya dan kalian semua, namun Aku sama sekali
tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah Yang Maha Mengetahui segala
yang ghaib, Yang memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam kalbu-
kalbu. Tidak ada satu pun di hadapan-Ku yang tersembunyi, dan tidak
ada yang samar di hadapan-Ku terhadap segala yang tersamar.... .
Pengetahuan- Ku terhadap apa-apa yang telah terjadi sama dengan
pengetahuan- Ku terhadap apa-apa yang belum terjadi. Pengetahuan- Ku
terhadap apa-apa yang telah berlalu sama dengan pengetahuan- Ku
terhadap yang akan datang. Dan pengetahuan- Ku terhadap segala sesuatu
yang awal sebagaimana pengetahuan- Ku terhadap segala yang akhir. Aku
lebih mengetahui sesuatu yang rahasia dan tersembunyi. Bagaimana
mungkin hamba-Ku menipu-Ku dengan ilmunya. Sesungguhnya dia hanyalah
menipu para makhluk yang tidak memiliki pengetahuan, dan Aku Maha
Mengetahui segala yang ghaib. Baginya laknat-Ku... .!!

Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga tujuh
langit beserta tiga ribu pengiringnya, ’Wahai Rabb Pemelihara kami,
baginya laknat-Mu dan laknat kami. Dan berkatalah seluruh petala
langit, ’Laknat Allah baginya dan laknat mereka yang melaknat buat
sang hamba itu..!

Mendengar penuturan Rasulullah Saw. sedemikian rupa, tiba-tiba
menangislah Mu’adz Rahimahullah, dengan isak tangisnya yang cukup
keras...Lama baru terdiam kemudian dia berkata dengan
lirihnya, ”Wahai Rasulullah.. ....Bagaimana bisa aku selamat dari apa-
apa yang telah engkau ceritakan tadi...??”

Rasulullah bersabda, ”Oleh karena itu wahai Mu’adz.....Ikutilah
Nabimu di dalam sebuah keyakinan... ”.

Dengan suara yang bergetar Mu’adz berkata, ”Engkau adalah Rasul
Allah, dan aku hanyalah seorang Mu’adz bin Jabal....Bagaimana aku
bisa selamat dan lolos dari itu semua...??”

Nabi yang suci bersabda, ”Baiklah wahai Mu’adz, apabila engkau merasa
kurang sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah
lidahmu dari ucapan ghibah dan fitnah terhadap sesama manusia,
khususnya terhadap saudara-saudaramu yang sama-sama memegang Alquran.
Apabila engkau hendak berbuat ghibah atau memfitnah orang lain,
haruslah ingat kepada pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana
engkau telah mengetahui bahwa dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib.
Janganlah engkau mensucikan jiwamu dengan cara menjelek-jelekkan
orang lain. Jangan angkat derajat jiwamu dengan cara menekan orang
lain. Janganlah tenggelam di dalam memasuki urusan dunia sehingga hal
itu dapat melupakan urusan akhiratmu. Dan janganlah engkau berbisik-
bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu terdapat orang lain yang
tidak diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung dan terhormat di
hadapan manusia, karena hal itu akan membuat habis terputus nilai
kebaikan-kebaikanmu di dunia dan akhirat. Janganlah berbuat keji di
dalam majelis pertemuanmu sehingga akibatnya mereka akan menjauhimu
karena buruknya akhlakmu. Janganlah engkau ungkit-ungkit kebaikanmu
di hadapan orang lain. Janganlah engkau robek orang-orang dengan
lidahmu yang akibatnya engkau pun akan dirobek-robek oleh anjing-
anjing Jahannam, sebagaimana firman-Nya Ta’ala, ”Demi yang merobek-
robek dengan merobek yang sebenar-benarnya. ..” (QS An-Naaziyat [79]:
2) Di neraka itu, daging akan dirobek hingga mencapat tulang...... ..

Mendengar penuturan Nabi sedemikian itu, Mu’adz kembali bertanya
dengan suaranya yang semakin lirih, ”Wahai Rasulullah, Siapa
sebenarnya yang akan mampu melakukan itu semua....??”

”Wahai Mu’adz...! Sebenarnya apa-apa yang telah aku paparkan tadi
dengan segala penjelasannya serta cara-cara menghindari bahayanya itu
semua akan sangat mudah bagi dia yang dimudahkan oleh Allah
Ta’ala.... Oleh karena itu cukuplah bagimu mencintai sesama manusia,
sebagaimana engkau mencintai jiwamu sendiri, dan engkau membenci
mereka sebagaimana jiwamu membencinya. Dengan itu semua niscaya
engkau akan mampu dan selamat dalam menempuhnya. ....!!”

Khalid bin Ma’dan kemudian berkata bahwa Mu’adz bin Jabal sangat
sering membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau membaca
Alquran, dan sering mempelajarinya serta menjaganya sebagaimana
beliau mempelajari dan menjaga Alquran di dalam majelis pertemuannya.

Al-Ghazali Rahimahullah kemudian berkata, ”Setelah kalian mendengar
hadits yang sedemikian luhur beritanya, sedemikian besar bahayanya,
atsarnya yang sungguh menggetarkan, serasa akan terbang bila hati
mendengarnya serta meresahkan akal dan menyempitkan dada yang kini
penuh dengan huru-hara yang mencekam. Kalian harus berlindung kepada
Rabb-mu, Pemelihara Seru Sekalian Alam. Berdiam diri di ujung sebuah
pintu taubat, mudah-mudahan kalbumu akan dibuka oleh Allah dengan
lemah lembut, merendahkan diri dan berdoa, menjerit dan menangis
semalaman. Juga di siang hari bersama orang-orang yang merendahkan
diri, yang menjerit dan selalu berdoa kepada Allah Ta’ala. Sebab itu
semua adalah sebuah persoalan bersar dalam hidupmu yang kalian tidak
akan selamat darinya melainkan disebabkan atas pertolongan dan rahmat
Allah Ta’ala semata.

Dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di lautan ini kecuali
dengan hadirnya hidayah, taufiq serta inayah-Nya semata. Bangunlah
kalian dari lengahnya orang-orang yang lengah. Urusan ini harus benar-
benar diperhatikan oleh kalian. Lawanlah hawa nafsumu dalam tanjakan
yang menakutkan ini. Mudah-mudahan kalian tidak akan celaka bersama
orang-orang yang celaka. Dan mohonlah pertolongan hanya kepada Allah
Ta’ala, kapan saja dan dalam kadaan bagaimanapun. Dialah yang Maha
Menolong dengan sebaik-baiknya. ..

Wa laa haula wa laa quwwata illa billaah...


Sumber: sufihanan.blogspot.com

Minggu, 26 Juli 2009

Yasmin Edisi 9 Tahun III

Yasmin Edisi 9 Tahun III
1 Agustus 2009/10 Sya’ban 1430

AMALAN YANG MENDATANGKAN MALAIKAT DI BULAN RAMADHAN

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohon ampunan
untukmu), supaya mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya
(yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada
orang-orang yang beriman.”
(QS Al Ahzab : 43)

SALAM REDAKSI

Assalamu’alaikum wr wb
Alhamdulillah kita kembali bertemu kali ini. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan sekarang kita sudah sampai pada bulan Sya’ban, yang berarti bulan Ramadhan sebentar lagi akan menjumpai kita. Semoga kita termasuk orang yang mendapat berkah bisa bertemu bulan mulia itu. Marilah kita bersama-sama mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut dan mengisi bulan yang penuh rahmat dan ampunan dengan ibadah-ibadah yang optimal dan ikhlas. Pada edisi khusus Ramadhan ini yasmin sengaja mengupas amalan-amalan yang bisa mendatangkan para malaikat di sekitar kita. Selamat menyimak.Oh ya, tak lupa seluruh redaksi memohon maaf atas kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja dalam pengajian selama ini. Dan semoga Allah memberi kesempatan untuk berjumpa lagi.
Wassalamu’alaikum wr wb

BAHASAN UTAMA

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, alangkah indahnya kalau waktu demi waktu yang kita lalui, terisi dengan ibadah-ibadah yang banyak mendatangkan pahala. Sebagai tabungan dan bekal kita di akherat nanti. Betapa nikmatnya bila segalaaktivitas kita di bulan Ramadhan kali ini diterima Allah swt. Berikut ini amalan yang apabila kita laksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah, maka Allah akan menurunkan para malaikat-Nya untuk menyambut amal ibadah yang kita lakukan, atau untuk menyampaikan balasan dari Allah atau juga mendoakan kita sebagai pelakunya. Adapun amalan-amalan itu adalah :

1. Berdzikir
Orang yang berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang sudah diajarkan Rasulullah, akan dihampiri dan dinaungi oleh para malaikat atas perintah Allah.
“Sesungguhnya bagi Allah para malaikat yang berkeliling di bumi untuk mencari orang-orang yang berdzikir, maka mereka akan memanggil satu sama lain. Marilah ke sini, inilah yang kamu cari. Rasulullah menambahkan,kemudian mereka meliputi para ahli dzikir itu dengan sayap-sayap mereka sampai langit dunia…” (HR Bukhari Muslim)

2. Tilawah Al Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an dan malaikat Jibril selalu melakukan tadarus bersama Rasulullah di bulan ini. Barangsiapa membaca Al Qur’an dengan benar, maka para malaikat akan menghampirinya. Barra bin Azib berkata, “Ada seorang laki-laki membaca surat Al Kahfi, di dalam rumahnya ada hewan yang kemudian kabur. Lalu datanglah awan atau mendung yang menaunginya. Peristiwa tersebut diceritakan pada Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Bacalah terus wahai Fulan! Karena sesungguhnya itu adalah malaikat yang turun saat Al Qur’an dibaca, atau turun untuk bacaan Al Qur’an.” (HR Muslim)

3. Istiqomah di jalan Allah
Sulit rasanya untukmenjaga kestabilan volume ketaatan kita di jalan Allah. Kita harus sering menghadiri majelis taklim yang bisa mengingatkan kita kepada Allah, dan memotivasi kita untuk bisa meningkatkan frekuensi ibadah kita. Rasulullah bersabda,”Demi Allah yang nyawaku ada di tangan-Nya, jika kalian hatinya dalam ketaatan dan dzikir, maka malaikat akan turun menyalami kalian di rumah atau di jalan-jalan.” (HR Muslim)

4. Mengajar kebaikan pada orang lain
Betapa mulianya seorang yang mau mengajarkan ilmu yang bisa bermanfaat buat orang lain, termasuk orang-orang yang mengajarkan Al Qur’an. Orang seperti ini akan mendapatkan lantunan doa dari para malaikat dan seluruh makluk di bumi Allah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya dan semua penghuni langit dan bumi sampai semut bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmidzi)

5. Menuntut ilmu
Agar ibadah kita diterima Allah swt, maka harus dilakukan dengan benar. Untuk mengetahui tentang kebenarannya, maka kita harus punya ilmu. Maka dari itu tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang menuntut ilmu bisa mendekatkan diri pada Allah swt, para malaikat akan datang menaunginya. Shofwan bin Assal berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku datang kepadamu untuk menuntut ilmu. Beliau menanggapi, ”Selamat datang buat penuntut ilmu, sesungguhnya orang yang menuntut ilmu itu akan dikelilingi para malaikat, mereka mengepakkan sayap-sayapnya di atasnya. Mereka saling susun-menyusun sampai ke langit karena cinta mereka kepada apa yang dituntut.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)

6. Mencintai saudara seiman
Apabila ingin dicintai Allah dan para malaikat, maka cintailah hamba-Nya. Kita mencintai karena ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan pada harta dan martabatnya. Rasulullah bersabda, ”Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berseru, “Sesungguhnya Allah telah mencintai si Fulan, maka cintailah Fulan. Lalu Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil seluruh penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia, lalu penghuni-penghuni langit pun mencintainya, sehingga ia diterima di bumi.” (HR Bukhari Muslim)

7. Makan sahur
Sahur adalah mengkonsumsi sebelum terbitnya fajar, walau hanta seteguk air atau secuil makanan bagi orang yang hendak berpuasa . Janganlah dilewatkan ibadah sahur ini, agar mendapat doa dari para malaikat. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al Bani)

8. Bershalawat dan salam kepada Rasul
Membaca shalawat dan salam ke Rasulullah merupakan salah satu bukti kongkrit akan kecintaan kita pada beliau. Di samping itu juga pembacanya akan dibalas doa oleh para malaikat yang sudah ditugaskan oleh Allah dalam masalah tersebut. “Tidakkah seorang hamba yang bershalawat kepadaku, kecuali para malaikat bershalawat kepadanya selama ia masih bershalawat kepadaku. Hendaklah hamba itu banyak bershalawat atau hanya sedikit.” (HR Ahmad dihasankan Al Bani)

9. Menempati shaf pertama pada waktu sholat jamaah
Masih banyak orang yang tidak mengetahui keutamaan shaf terdepan dari sholat berjamaah. Seandainya mereka mengetahui maka mereka akan berlomba untuk mendapatkannya. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang yang berada di shaf pertama.” (HR Abu Dawud)

10. Menunggu sholat berjamaah
Sebagian orang muslim masih suka datang ke masjid ketika imam sudah takbiratul ikram. Padahal kalau datangnya lebih awal masih bisa sholat sunah qobliyah lalu menunggu datangnya imam. Saat menunggu inilah ia mendapat doa dari para malaikat. “Sesungguhnya para malaikat senantiasa bershalawat kepada kalian, selama kalian masih duduk di tempat dan belum batal wudhunya, mereka berdoa, ”Ya Allah, ampuni ia, ya Allah, rahmati ia.” (HR Bukhari Muslim)

11. Mengunjungi orang sakit
Ibadah sosial yang bisa mendatangkan para malaikat adalah mengunjungi orang sakit. “Tidaklah seorang menengok saudaranya yang sakit pada sore hari, kecuali diiringi 70.000 malaikat yang senantiasa minta ampun untuknya sampai pagi, dan disediakan tempat di surga. Dan barangsiapa yang menengok di waktu pagi, maka 70.000 malaikat akan mengiringinya dan memintakan ampun untuknya sampai sore dan disediakan baginya tempat di surga.” (HR Abu Dawud)

12. Mendoakan saudara seiman yang sedang tidak bersamanya
Apabila kita mempunyai saudara yang berjauhan, jangnlah risau dan bersedih. Kita masih bisa berkomunikasi dengan alat komunikasi yang canggih. Dan juga jangan lupa mendoakannya. “Doanya orang muslim untuk saudaranya yang sedang tidak bersamanya terkabulkan, karena di atas kepalanya ada malaikat. Setiap dia mendoakannya dengan kebaikan,malaikat yang bertugas itu bekata amin (ya Allah) kabulkanlah, dan baginya seperti itu juga.”(HR Muslim)

13. Berta’ziah ke orang yang meninggal
Ketika ada tetangga atau saudara yang meninggal dunia, sempatkanlah hadir untuk berempati dan bela sungkawa. Dalam kesempatan ini berdoalah untuk keluarga yang ditinggalkan, mohon diberi kesabaran dan kebaikan, karena doa kita akan diamini para malaikat. “Apabila kamu mendatangi orang sakit atau meninggal dunia, maka berdoalah yang baik-baik. Karena sesungguhnya para malaikat akan mengamini apa yang kamu ucapkan.” (HR Muslim)

Doa-doa para malaikat bagi orang-orang beriman adalah sangat besar pengaruhnya, karena mereka memohonkan agar orang-orang beriman senantiasa mendapatkan hidayah dalam mengarungi kehidupan ini. Semoga berkat doa-doa itu Allah swt memberikan cahaya-Nya kepada kita semua dalam mengarungi bulan Ramadhan ini dalam menggapai keridhoan-Nya.

Akhirnya marilah kita selalu berdoa kepada Allah dengan lantunan “Ya Allah, kami mohon ridho dan surga-Mu dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan adzab-Mu. Amin.”

Kamis, 11 Juni 2009

yasmin 8 tahun III

YASMIN
Menuju Muslimah Taqwa, Cerdas dan Terampil
___________________________________________
Edisi 08/Tahun III
1 Juli 2009/ 10 Sya’ban 1430 H

ADAB BERGAUL AGAR DICINTAI ALLAH DAN MANUSIA

"Sesungguhnya di sekitar Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya, dan di atas mimbar-mimbar tersebut terdapat orang-orang di mana pakaian mereka adalah cahaya, dan wajah mereka adalah cahaya. Mereka bukan nabi, dan bukan pula syuhada'. Para nabi, dan syuhada' iri kepada mereka." Ditanyakan kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka kepada kita." Rasulullah saw. bersabda, "Mereka saling mencintai karena Allah, saling duduk karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah." (Diriwayatkan An-Nasai. Hadits ini shahih).

DARI REDAKSI

Assalamu’alaikum wr wb
Cita-cita tertinggi seorang muslim ialah agar dirinya dicintai Allah dan menjadi orang bertakwa. Itu semua dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Karena itu manusia senantiasa harus menjaga hubungannya dengan Allah (habluminalloh) dan dengan manusia (habluminnanas). Islam sebagai agama mulia, telah memberikan tuntunan tentang adab bergaul. Dengan mempraktekkan adab yang baik dalam bergaul, maka kita akan dapat memperoleh manfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat di antara umat Islam. Ukhuwah yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Bila adab bergaul tidak dipraktekkan dengan baik di antara sesama manusia, maka akan banyak terjadi kerenggangan, bahkan permusuhan. Bahkan, dakwah yang haq bisa dijauhi oleh manusia, jika tidak dibarengi dengan akhlak yang baik. Oleh karena itu, adab bergaul sangat perlu dipelajari dan diamalkan.

Dalam Yasmin edisi ini, kami akan membahas tentang adab bergaul dalam Islam, apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang seharusnya ditinggalkan. Tentunya semua itu hanya dalam rangka beribadah pada Allah dan untuk mencari ridho-Nya semata. Semoga bermanfaat.

Wasslam’alaikum wr wb


TOPIK UTAMA

Di antara tanda-tanda seseorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai oleh orang-orang shalih, diterima di hati mereka. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya, jika Allah mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata, "Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia." Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit, "Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia." Maka mereka (penduduk langit) mencintainya. Kemudian, ia menjadi orang yang diterima di muka bumi." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Beliau adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman, "Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung." (Al-Qalam : 4)

Kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya, "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik bagi kalian." (Al-Ahzab : 21)

Diantara adab bergaul yang sebaiknya kita lakukan adalah sebagai berikut :

1. Hormati perasaan orang lain, tidak menghina atau menyakiti baik dengan perkataan dan perbuatan. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya. Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka diberi hak dan dihargai.

2. Bersikap rendah hati dan tidak tamak terhadap apa-apa yang dimiliki orang lain. Rasulullah saw. Bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu.”(HR Ibnu Majah). Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan meminta apa yang engkau butuhkan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau meneteskan air mata.

3. Tidak melakukan maksiat dan meremehkan ketaatan. Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa dzikir dan ibadah, saling menasehati, mengingatkan dan memberi pelajaran, berarti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan hal itu bisa mengakibatkan terbukannya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah saw. Bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak mendzoliminya dan tidak menghinakannya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya karena satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya.”(HR Ahmad). Ibnu Qayim, dalam kitab “Al-Jawabul Kafi” mengatakan, “Di antara akibat dari perbuatan maksiyat adalah rasa gelisah (takut dan sedih) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiyat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya.” Orang-orang ahli maksiyat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar materi sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan hal itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat. Allah swt berfirman, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(Az-Zukhruf: 67). Sedangkan persahabatan karena Allah, akan terus berlanjut sampai di surga, “…sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”(Al-Hijr: 47).

4. Menggunakan adab yang baik ketika berbicara, bermuka manis dan tersenyum ketika berjumpa. Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'hendaklah mereka mengucapkan kata-kata yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia'.”(Al-Isra: 53). Dalam sebuah hadis Nabi saw. Bersabda, “Kalimah thayibah adalah shadaqah.”(HR Bukhari). Memperhatikan apabila ada yang mengajak berbicara dan tidak memalingkan muka darinya. Seorang ulama salaf berkata, “Ada seseorang yang menyampaikan hadis sedangkan aku sudah mengetahui hal itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara.”

5. Bercanda dan bersenda gurau secukupnya. Berapa banyak orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.

6. Menghindri berdebat, berbantah-bantahan dan memaafkan kesalahan mereka. Terkadang hubungan persaudaraan terputus karena terjadinya perdebatan yang sengit yang bisa jadi itu adalah tipuan setan. Dengan alasan mempertahankan akidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah saw. Bersabda, “Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya.”(HR Bukhari dan Muslim). Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka menggelar perdebatan, adu argumen dan pendapat. Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang bodoh, dan kepada ahli bidah, hal itu tidak masalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka hal itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, hal itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan. Jadi, bisa saja dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.

7. Tidak berbisik-bisik (pembicaraan rahasia) di depan orang lain. Berbisik-bisik adalah merupakan hal yang sepele tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan. Allah swt. Berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman berduka cita….”(Al-Mujadalah: 10) Rasulullah bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga karena itu akan bisa menyebabkannya bersedih.”(HR Bukhari dan Muslim). Para ulama berkata, “Setan akan membisikkan kepadanya dan berkata, 'Mereka itu membicarakanmu'.” Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta idzin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik (berbicara rahasia).

8. Jika saudaranya sakit maka ia menjenguknya, jika saudaranya mengalami kesulitan maka ia membantu meringankannya, jika saudaranya lupa maka ia mengingatkannya, menyambutnya dengan hangat jika saudaranya mendekat, memberi tempat yang luas jika saudaranya ingin duduk, dan mendengarkan dengan senius jika saudaranya berbicara.

9. Menjaga lisan dengan tidak membeberkan aib saudaranya baik sepengetahuan maupun tanpa sepengetahuannya, tidak membongkar rahasianya, dan tidak berusaha mengetahui rahasia-rahasia diri saudaranya. Jika ia melihat saudaranya di salah satu jalan untuk satu kebutuhan, maka ia tidak menyuruhnya menyebutkan kebutuhannya tersebut, dan tidak berusaha mengetahui sumbernya. Ia menyuruhnya kepada kebaikan dengan lemah-lembut, melarangnya dari kemungkaran dengan lemah-lembut, tidak membantah ucapannya, tidak mendebatnya dengan kebenaran atau kebatilan, tidak mengecamnya dalam satu urusan pun, dan tidak menyalahkan perbuatannya.

10. Memberi sesuatu yang dicintai saudaranya dan lisannya dengan memanggilnya dengan nama yang paling ia sukai, menyebutkan kebaikannya tanpa sepengetahuannya atau di depannya, menyampaikan pujian orang kepadanya sebagai bentuk keiriannya kepadanya dan kebahagiaannya dengannya, tidak menasihati berjam-jam hingga membuatnya gerah, dan tidak menasihati di depan umum karena hal mi mencemarkan nama baiknya. Imam Syafi'i Rahimahullah berkata, "Barangsiapa menasihati saudaranya secara rahasia, sungguh ia telah menasihatinya dengan baik, dan menghiasinya. Dan barangsiapa menasihati saudaranya dengan terang-terangan, sungguh ia telah mencemarkan nama baiknya."

11. Memaafkan kesalahannya, tidak mengambil pusing dengan kekeliruan-kekeliruannya, menutup aib-aibnya, berbaik sangka kepadanya, jika saudaranya berbuat maksiat dengan diam-diam atau terang terangan maka ia tidak memutus persaudaraan dengannya, tidak membatalkan persaudaraannya, namun ia tetap menunggu taubatnya. Jika saudaranya tetap bertahan berbuat maksiat, ia boleh memutus persaudaraan dengannya, atau tetap mempertahankan persaudaraan dengannya dengan memberikan nasihat kepadanya, dan terus mengingatkannya dengan harapan saudaranya bertaubat, kemudian Allah Ta‘ala menerima taubatnya. Abu Ad-Darda' ra berkata, "Jika saudaramu berubah, maka engkau jangan meninggalkannya karena hal tersebut, karena saudaramu itu terkadang menyimpang, namun pada kesempatan lain ia berada di atas jalan yang lurus."

12. Memenuhi hak ukhuwwah (persaudaraan) dengan menguatkannya dan mempertahankan perjanjiannya, karena memutus ukhuwwah itu membatalkan pahala ukhuwwah. Jika ia meninggal dunia, ia mentransfer hubungan ukhuwwah ini kepada anak-anaknya, dan sahabat-sahabat yang setia kepadanya untuk menjaga ukhuwwah, dan setia kepada saudaranya. Rasulullah saw. memuliakan wanita tua, kemudian beliau ditanya tentang sikapnya tersebut, maka beliau bersabda, "Sesungguhnya wanita tua ini dulu sering datang kepada kami semasa Khadijah masih hidup, dan sesungguhnya memuliakan janji adalah bagian dan agama." (Diriwayatkan Al-Hakim dan ia men-shahih-kan hadits ini). Di antara bentuk kesetiaan kepada ukhuwwah ialah ia tidak boleh bersahabat dengan musuh saudaranya, karena Imam Syafi'i Rahimahullah berkata, "Jika temanmu mentaati musuhmu, maka keduanya terlibat dalam permusuhan denganmu."

13. Tidak menyuruh saudaranya dengan sesuatu yang tidak mampu ia kerjakan, dan tidak ia senangi. Ia tidak boleh bergantung dengan harta atau jabatan saudaranya, dan tidak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan, karena asas ukhuwwah ialah karena Allah Ta‘ala. Oleh karena itu, ukhuwwah ini tidak boleh diubah kepada selain Allah, misalnya untuk menarik rnanfaat dunia, atau menolak madharat dunia. Disebutkan dalam atsar, "Aku, dan orang-orang bertakwa dan umat berlepas diri dari pembebanan yang tidak proporsional."

14. Mendoakan saudaranya, anak-anaknya, dan apa saja yang terkait dengannya sebagaimana ia senang mendoakan dirinya, anak-anak kandungnya, dan apa saja yang terkait dengannya, sebab seseorang tidak berbeda dengan saudaranya karena persaudaran telah menyatukan keduanya. Oleb karena itu, ia harus mendoakan saudaranya baik dalam keadaan hidup, atau mati, atau tidak ada di tempat, atau berada di tempat. Rasulullah saw. bersabda, "Jika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka malaikat berkata, ‘Engkau juga mendapatkannya'." (HR Muslim).


KISAH

Ada sepenggal kisah menarik saat Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah yang diriwayatkan Anas bin Malik.

''Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya,'' ujar Sa'ad bin Rabi, penduduk Madinah atau kaum Anshar, kepada Abdurrahman bin 'Auf, seorang Muhajirin. Sa'ad tak bermaksud pamer dan sombong, tapi hendak meyakinkan sahabatnya itu agar mau menerima tawarannya.

''Silakan pilih separuh hartaku dan ambillah!'' tegas Saad. Tidak hanya itu, Saad menambah penawarannya. ''Aku pun mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatianmu, maka akan kuceraikan ia, hingga engkau dapat memperistrinya.''

Namun, Abdurrahman menolak halus tawaran tulus nan menggiurkan tersebut. Malah ia minta ditunjukkan letak pasar. Ia menolak ikan, tapi mau kail agar bisa memancing sendiri.

''Semoga Allah memberkati engkau, istri, dan harta benda milikmu. Tunjukkanlah letak pasar, agar aku dapat berniaga.''

Hingga pada akhirnya, Abdurrahman bin 'Auf yang miskin akibat meninggalkan semua harta bendanya di Makkah demi perjalanan hijrah ini, menjadi seorang saudagar. Ia menjadi kaya raya kembali dengan perniagaan yang dikelolanya secara profesional, amanah, dan jujur.

Keindahan ukhuwah Islamiyah kaum Muslimin generasi awal itu, harus bisa kita terapkan kembali. Sebuah jalinan ukhuwah yang bisa menciptakan integrasi umat Islam yang sangat kokoh dan akan membawa Islam mencapai kejayaan dan mengembangkan sayapnya ke berbagai penjuru bumi serta disegani oleh musuh-musuhnya.

Terlebih saat ini, banyak saudara-saudara kita membutuhkan bantuan uluran tangan akibat banjir, longsor, dan musibah lainnya. Bila Sa'ad bersedia berbagi -bahkan rela memberikan apa yang dicintainya- untuk saudara Muslimnya, kenapa kita tidak?

FIQH

Adab Bergaul

1. Berkata yang baik dan mau memaafkan orang lain. Allah berfirman, ” Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih disukai Allah daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS Al Baqarah : 263)

2. Tidak menyakiti hati orang lain, tidak menyebut-nyebut pemberian yang telah diberikan. Allah berfirman, ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima).... ” (QS Al Baqarah : 264)

3. Perhatikan perasaan orang lain dan hormatilah, jangan menghina atau memandang mereka cacat, mencela dan memanggil dengan julukan jelek . Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaummengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan)..... (QS 49 : 11)

4. Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman, ”yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS 3 : 134)

5. Menjaga diri dari perbuatan mendholimi orang lain. Allah berfirman, ”Sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat dholim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. ” (QS 42 : 42)

6. Saling mencintai. ”Rasulullah saw bersabda, ”Seorang di antara kalian tidak (dikatakan) beriman sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari Muslim)

7. Tersenyumlah ketika bertemu orang lain dan bersikap zuhud. ” Rasulullah saw bersabda, ”Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka mencintaimu.” (Hadist hasan diriwayatkan Ibnu Majah)

8. Jauhi dengki, menipu dan sikap menzholimi orang lain. ” Rasulullah saw bersabda, ”Janganlah kalian saling dengki, jangan salling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli sesuatu yang masih (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak layak untuk menzholiminya, berbohong padanya dan acuh padanya. Taqwa itu di sini (beliau sambil menunjuk dadanya tiga kali). Cukuplah kejahatan seseorang jika ia menghina saudara muslim lainnya. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya dan harga dirinya.” (HR Muslim)

9. Mendoakannya. "Jika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka malaikat berkata, ‘Engkau juga mendapatkannya'." (Diriwayatkan Muslim).

Sabtu, 31 Januari 2009

YASMIN 3 TAHUN III, 1 FEBRUARI 2009

Edisi 03 Tahun III/1 Februari 2009/6 Shafar 1430 H

ISLAM STANDAR KEBENARAN YANG TUNGGAL

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS 2 : 147)

DARI REDAKSI

Assalamu’alaikum wr wb

Pembaca yang dimuliakan Allah, apa kabar? Semoga semua selalu dalam kebaikan dan keberkahan-Nya. Perguliran hari demi hari tak terasa telah mengantarkan kita pada tahun yang baru ini. Tahun baru, semangat baru, itu yang kami harapkan. Pada kesempatan ini, kami mengulas tentang standar kebenaran yaitu Islam. Dengan tujuan supaya kita mempunyai standar dalam kehidupan ini yang jelas dan tidak rancu. Dengan demikian, kita bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah. Semoga Anda bisa menyimaknya dengan seksama. Teriring doa semoga kita selalu dalam perlindungan Allah dan mendapat kemudahan. Amin.

Wassalamu’alaikum wr wb

TOPIK UTAMA

Fenomena amat menyedihkan yang kita saksikan hari ini adalah, persepsi manusia yang makin kacau tentang standar kebenaran. Manusia saling berebut pengaruh dalam mencari pengakuan bahwa produk otak mereka bisa dijadikan takaran bagi nilai-nilai kehidupan. Mereka lupa bahwa manusia mempunyai segudang kekurangan sehingga amat mustahil bisa membuat aturan yang sempurna untuk mengatur kehidupan ini. Akibatnya memang amat memilukan, hidup mereka bagai merayap di alam kegelapan. Tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Manusia pun makin terperosok dalam jurang ketidakpastian cita-cita dan tujuan hidup.

Betapapun tingginya peradaban yang berhasil dibangun manusia, ia bukan jaminan bagi terciptanya perdamaian. Barat yang telah berhasil memacu teknologi begitu cepat, meninggalkan negara-negara dunia ketiga, nyatanya hari ini mengalami krisis ekonomi yang begitu luas sehingga memporak-porandakan segi-segi kehidupan. Timur pun yang selalu berkiblat ke barat tak mempunyai identitas diri sehingga mudah diombang-ambingkan oleh situasi dan kondisi. Kemajuan yang tidak bersandarkan pada nilai-nilai kebenaran yang mutlak (hukum Allah) akhirnya akan menggiring manusia pada jurang kehancuran yang mengerikan.

Tatkala penduduk dunia makin resah dengan berbagai krisis yang ada, maka Islam sebagai petunjuk hidup seluruh manusia adalah salah satu alternatif dalam menjawab semua permasalahan itu.

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu serta pembeda antara yang haq dan yang bathil.” (QS 2 : 185)

Islam adalah sebuah kepastian, Al Qur’an yang merupakan sandaran utama dienul Islam, adalah sebuah kebenaran mutlak. Mustahil dari kesalahan, luput dari kekhilafan dan kekurangan. Karena ia berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna, Yang Maha Tahu, Maha Kuat dan Maha Benar yaitu Rabbul Izzati. Dia Penguasa Tunggal jagad raya, Pemelihara Sekalian Alam, Pemilik Kerajaan langit dan bumi. Karena itulah otoritas membuat aturan dan hukum tentang kegidupan hanya mutlak milik Allah saja.

”Membuat hukum hanyalah mutlak kepunyaan Allah. Dia memerintahkan kamu agar tidak menyembah kepada selain Dia. Itulah petunjuk hidup yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 12 : 40)

”Dan Dia-lah Tuhan yang sisembah di langit dan Tuhan yang disembah di bumi.” (QS 43 : 84).

Al Qur’an dengan begitu jelas dan rinci menerangkan hukum-hukum yang mengatur tata cara hidup manusia. Dijelaskan pula akibat-akibat dari ketaatan dan pembangkangan dari orang-orang terdahulu sebagai contoh dan pelajaran bagi kita orang-orang yang hidup kemudian.

Kebenaran dan tujuan diciptakannya manusia dipaparkan dengan jelas. Al Qur’an berisi keterangan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang dan tentang hal-hal yang ghoib.

Sebuah warisan suci dari kerajaan langit yang utuh dan menyeluruh, sempurna dan kekal sebagai standar kehidupan. Adalah layak jika seluruh manusia di dunia menjadikannya sebagai sumber hukum. Sehingga tidak layak kalau manusia masih mencari-cari yang lain.

“Atau siapakah yang menciptaka (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rizqi kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Alah ada Tuhan yang lain? Katakanlah : tunjukkan bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS 27 : 64)


FIQIH

Prinsip dasar tentang Islam dalam Al Qur’an
”Sesungguhnya dien yang diridhoi Allah hanyalah Islam.” (QS 3 : 19)
”Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS 16 : 89)
”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh.” (QS 2 : 208)
”Apakah kalian akan beriman dengan sebagian Al Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tak ada balasan bagi yang berbuat demikian, kecuali kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan di hari kiamat mereka dilemparkan ke dalam azab yang amat berat.” (QS 2 : 85)
”Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah dan kalimat Allahlah yang tinggi.” (QS 9 : 40)

KISAH

ISLAMNYA SEORANG CAT STEVEN (YUSUF ISLAM)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS :34)

Aku dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Tetapi karena aku dibesarkan sebagai orang Kristen, maka aku harus mencari jalanku kembali menuju Islam. Aku dibesarkan dalam dunia barat yang sangat materialistis.

Inilah zaman kita dewasa ini. Zaman yang kuanggap sangat baik jika dipandang dari itu semua. Ketika itu aku menganggap bahwa zaman ini sangat hebat dan spektakuler dalam kehidupan kita di mka bumi ini. Sebab kita sudah bisa menjelajahi sampai ke bulan. Jadi demikianlah dunia ini disajikan kepadaku, sehingga aku yakin bahwa manusia hanya akan mencapai puncak peradaban jika ia hidup secara ilmiah dan memiliki harta dan kekayaan yang berlimpah.

Maka aku menjadikan hal ini sebagai tujuan hidup. Akan halnya agamaku Kristen, aku tak memahaminya. Aku memang menyukai kisah-kisah yang ada di dalamnya mengenai Isa Al Masih. Tetapi karena agama ini tidak sempurna, bukan dien yang sesungguhnya, maka aku tidak bahagia. Maka akupun cenderung mengambil jalan sains, teknologi dan materialisme.

Aku tidak termasuk orang yang pandai sehingga tidak mungkin menjadi ilmuwan. Tapi aku melihat ada cara yang mudah untuk menghasilkan uang, yaitu dengan menggubah musik. Saat itu banyak sekali grup-grup musik dan penyanyi-penyanyinya. Aku memutuskan inilah jalanku, aku akan menjadi orang kaya dan bahagia.

Maka jadilah aku orang terkaya dan terkenal. Namun bersamaan dengan itu datanglah persoalan yang lainnya. Sebab itu semua persis tampil sebagaimana sebuah pagelaran. Kalau Anda melihat pagelaran dan Anda pergi ke belakang panggung, Anda akan melihat keadaan sesungguhnya di sana. Kondisi compang-camping, berantakan dan ketidakteraturan lainnya. Suatu keadaan yang berbeda sekali.

Setelah aku berhasil mencapai karir puncak sebagai penyanyi, akupun menyadari ini bukanlah yang sebenarnya aku cari dan aku idam-idamkan dalam hidupku. Mulailah aku mencari kembali makna hidupku. Kebetulan aku terserang suatu penyakit. Alhamdulillah, aku jadi punya waktu untuk merenung dan berfikir. Dan dalam perenunganku ada pertanyaan-pertanyaan penting yang sulit untuk mendapatkan jawabannya. Apa yang terjadi pada diriku setelah kematian? Apa sebenarnya tujuan hidup ini? Jika tujuannya materi, maka manusia sangat merugi. Perlombaan mengejar materi adalah perlombaan yang sia-sia.

”Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.” (QS 103 : 1 – 2)

Maka mulailah aku menjajagi beberapa agama. Akan tetapi aku menjumpai pada dasarnya agama-agama yang aku pelajari bukanlah agama yang sesungguhnya. Semua itu hanya sejenis filsafat. Sesungguhnya hal yang jauh dari sempurna jika dibandingkan dengan apa yang kita kenal dengan Al Islam.

Maka akupun melanjutkan pencarian. Pada tahun 1975, kakakku David, pergi ke Yerusalem dengan kunjungan sebagai turis. Ia ingin melihat tempat Isa Al Masih dilahirkan dan berharap menemukan pengalaman spiritual. Akan tetapi ia tak menemukan pengalaman spiritual itu. Di sana ia menemukan gereja-gereja tanpa ruh, bahkan ia melihat sendiri adanya korupsi dan perpecahan dalam gereja-gereja itu. Ia juga kecewa melihat tingkah orang-orang Yahudi di sana.

Ketika ia menengadah dan melihat ada sebuah masjid, ia bertanya pada dirinya sendiri, ”Apakah agama ini?” Kita tidak tahu apapun tentang agama ini! Memang ada sedikit berita tentang Islam, tapi belum mencukupi. Maka masuklah dia ke masjid dan merasakan sebuah ketenangan, tentram dan damai. Ia merasa gembira sekali. Akan tetapi ia harus segera keluar, karena dia bukanlah seorang muslim.

Kembalilah dia ke London. Kebetulan di sana ada festival kebudayaan Islam dan pameran buku-buku Islam. Datanglah ia ke sana dan menyaksikan pameran itu dengan penuh takjub. Kemudian dia melihat Al Qur’an. Ia berkata, ”Ah, ini buku orang muslim.” Ia kemudian membeli Al Qur’an itu dan kemudian menyimpannya. Al qur’an itu akhirnya dihadiahkan untukku, Alhamdulillah.

Sewaktu aku membaca Al Qur’an, aku sama sekali tak tahu apa itu Islam. Gambaran yang disajikan orang barat adalah sesuai yang disajikan pada mereka. Kebanyakan orang tidak peduli. Sebagian ada yang mengetahui tapi disembunyikan pada masyarakat. Pandanganku tentang Islam adalah seperti kebangsaaan. Tetapi ketika aku baca Al Qur’an, pesannya ditujukan pada seluruh manusia, di situlah aku baru tersentak dan fitrah kemanusiaanku mulai bangkit. Aku sudah banyak membaca buku, tapi belum pernah membaca sesuatu pun seperti Al Qur’an. Sebab ucapannya sama sekali berbeda. Maka akupun mulai menyadari, dan dengan seksama perlahan-lahan mulai mempelajarinya. Buku ini bukan karangan manusia dan akupun mulai mengerti tentang peranan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.

Demikianlah jalanku pada Islam. Setelah satu tahun atau lebih aku memeluk Islam, aku menyimpulkan bahwa hidup ini tak akan ada artinya kecuali jika kita mengikuti kebenaran. Dan kebenaran itu tidak lain adalah Islam (keselamatan). Setelah hatiku mulai terpanggil maka aku hanya ingin menjadi muslim. Dan pada tahun 1977 aku mengikrarkan diriku sebagai muslim dengan mengucap dua kalimat syahadat.